26.3.12

menilai

"jangan menilai sebuah buku dari halaman sampulnya," begitu orang sering berkata. pada kenyataannya, saya selalu tertarik membuka buku hanya karena tertarik halaman sampulnya. hanya membuka ya. membuka tidak selalu berakhir dengan membeli, lalu membaca. saya biasanya membaca buku bila ada rekomendasi dari teman. dan biasanya, saya hanya membeli buku kalau sudah "kenal" dengan si penulis atau tema yang diangkat akan selalu saya butuhkan sewaktu-waktu.

bukan salah buku itu kalau dia hanya memiliki daya tarik di bagian sampul. bukan salah dia juga kalau tata letaknya sangat buruk sehingga banyak orang malas membaca isinya yang sangat bermanfaat. bukan salah dia juga kalau nama penulis yang tercantum sangat terkenal, tapi yang ditulis tidak semenarik buku-buku sebelumnya. 

jadi, salah siapa? bukan salah siapa-siapa, karena semua nilai itu relatif. sampul yang tidak menarik, tata letak yang kacau, dan isi yang kurang berbobot itu mungkin hanya penilaian subyektif kita saja. kalaupun semua orang memberi penilaian yang sama, toh tetap ada yang membeli sebuah buku bersampul buruk hanya karena nama penulisnya bukan? ada pula yang membeli tapi tidak membaca, sehingga tidak pernah tahu kalau ternyata isinya tidak sebagus yang disangka...

sebenarnya yang saya mau katakan hanya:

kalau dia sudah bekerja lama sekali di sebuah perusahaan, tapi jabatannya tidak naik-naik itu tidak selalu berarti dia tidak bisa apa-apa. itu pilihan. pilihan dia untuk tidak menunjukkan keahliannya. pilihan dia untuk tetap tidak bisa apa-apa.

siapalah kita yang berhak menilai kualitas manusia dari jabatan? siapalah kita yang berhak menilai seseorang dari kesalahan yang pernah dilakukan?

21.3.12

gertak sambal

orang jaman sekarang senang menggertak di sekolah, jejaring sosial, dan tentunya di kantor. mereka yang kerjanya menggertak bawahan biasanya tidak percaya diri. mereka ingin orang lain pun demikian. gertakan dilancarkan untuk menggempur pertahanan kepercayaan diri kita.

ini saya rasakan benar di kantor. saya merasa selalu digertak. ide-ide saya sering dimentahkan dan suara saya hampir tidak pernah didengar. mungkin mereka menganggap saya tidak tahu apa-apa, selalu salah jika mengatur pemotretan, sering salah ketik, tidak bisa mengedit dengan baik dan benar, serta tidak memiliki selera dan gaya yang sesuai dengan majalah tempat saya bekerja. sebut saja namanya pembantar.

sering sekali saya mendengar, "temanya kurang pembantar", "model yang dipilih kurang 'mahal' dan nggak pembantar", "judulnya nggak pembantar", saya tidak pembantar. argumentasi basi ini sering saya dengar sejak saya di majalah gaya (nama disamarkan). sebelum saya dipindahkan ke pembantar, mereka juga bilang saya tidak gaya.

memang yang pembantar itu seperti apa? kalau dia bilang model artikel fitnes saya seperti "kebanjiran" karena tidak pakai kaus kaki, ternyata majalah pembantar dari negara asalnya banyak yang menampilkan model tanpa kaus kaki saat memperagakan gerakan fitnes. mereka bilang wajah model itu kurang "mahal," tapi di edisi lama banyak wajah yang lebih "murah" tetap bisa masuk. kalau mereka cerdas sih, argumentasi untuk menyuruh foto ulang bukan dua alasan itu, tapi: "lengannya besar. ini kan latihan untuk mengencilkan lengan, harusnya cari model yang lengannya kecil."

lalu tentang tema artikel. dia bilang artikel pembantar itu tidak pernah yang negatif. jadi yang diangkat jangan tema "jenis kemarahan" tapi contoh situasinya dan bagaimana cara mengatasinya. agar semua senang, saya buatlah artikel untuk edisi april itu dengan saran dia. lalu, jeng jeng... pembantar dari negara aslinya mengeluarkan edisi mei dengan tema "apa jenis kemarahan anda?" tuh, kan... masih mau bilang nggak pembantar?

jadi yang pembantar itu seperti apa? yang kaku dan membosankan karena isinya hanya contoh peristiwa atau kasus lalu diikuti dengan solusi? atau yang begitu-begitu saja karena selalu harus membahas yang positif? mana ada sih tema kontroversial (yang biasanya menjual) tapi tidak negatif? kenapa kita harus mengikuti pedoman lama yang sudah ditinggalkan oleh si pembuat pedoman? si majalah aslinya saja sudah membuat artikel investigasi limbah nuklir lo.

kalau boleh mengeluarkan kalimat "nggak pembantar banget," saya sih akan menunjuk kata sapaan "ciiiin!" di akhir catatan pengantar editorial ya...

itu baru gertakan tentang saya yang dibilang tidak punya selera sesuai majalah pembantar. masih banyak gertakan lain yang membuat saya kehilangan rasa percaya diri. saking seringnya lupa, salah sebut, dan salah tulis, saya selalu mengandalkan situs mesin pencari dan kamus dalam jaringan. saya sering diam lama sebelum menjawab karena membuka salah satu atau keduanya terlebih dahulu. mungkin karena itulah, mereka berpikir saya tidak tahu apa-apa dan tidak pernah mau mendengarkan pendapat atau perkataan saya.

saya sih pasrah saja diperlakukan seperti itu. saya lebih baik dibilang tidak tahu apa-apa  daripada saat saya membuka mulut: 1) salah menyebut bran. dan, mengatakan kalau *estle itu punya bran air dalam kemasan bernama p*r*it yang dibuat dari air embun. atau 2) mengatakan kalau flu singapura itu datangnya dari negara singapura karena banyak orang di jakarta yang pergi ke sana. karena itulah penularan flu singapura banyak terjadi di sekolah-sekolah internasional. dan 3) dengan lantangnya bilang tidak tahu kristin chenoweth itu siapa karena dia bukan orang terkenal.

reaksi saya atas tiga hal itu: 1) saya tahu dia salah sebut bran, tapi saya diam saja. saking seringnya digertak, saya yang kehilangan percaya diri dan tidak berani mengoreksi pernyataan dia. saya sampai harus membuka mesin pencari untuk menyakinkan diri kalau dia memang salah sebut.

2) saya diam saja saat mereka berdua berbincang tentang flu singapur. saya hanya gatal ingin menunjukkan ini pada mereka. tidak mungkin saya menyambar dalam perbincangan kedua atasan itu, jadi saya hanya berkicau di twitter dan bilang "gatel, pingin ngetwit ini" sambil merujuk ke blog saya itu. kalau mereka itu ibu-ibu biasa, saya akan memaklumi ketidaktahuan mereka. sayangnya, salah satu dari mereka itu mantan redaktur pelaksana sebuah media untuk ibu dan anak.

3) komentar saya (yang tentunya juga tidak sempat dikatakan selantang omongan dia) "kalau kamu tidak tahu, bukan artinya dia tidak terkenal bukan?" coba deh baca dulu artikelnya. dan jangan bilang dia lebih dikenal karena glee. dia itu sampai main di glee karena dia bintang broadway dan pemenang tony award. bukannya sudah banyak orang indonesia yang tahu ya, kalau jadi bintang broadway lebih bergengsi dibanding main di beberapa episode di glee?

silakan saja kalau mereka mau terus mengumbar gertak sambal. saya tidak perlu membalas, cukup diam, dan terus mengingatkan diri kalau narasumber saya lebih banyak, kalau hari ini saya menjadi satu-satunya wartawan yang berhasil menyelesaikan tts dari sekitar enam puluh perserta yang hadir, kalau saya masih merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa tapi masih mau belajar dan membaca...

ah, gertak sambal menurut kbbi kan hanya ancaman untuk menakut-nakuti. dan, penggertak salah satu artinya adalah sesuatu yg dipakai untuk membuat berani. semoga saja mereka memang senang menggeretak untuk membuat saya menjadi berani dan bukan buat tujuan lain. *berani buat mencari pekerjaan lain maksudnya*

16.3.12

pekerjaan = pacar (bukan suami!)

kalau saya dulu mencari pacar segiat saya mencari kerja, mungkin koleksi mantan saya akan lebih banyak dan lebih baik. tidak akan ada lagi penyesalan: kenapa dulu kuliah cuma pacaran sama satu orang? iya kalau orangnya bener, wong bajingan gitu...

kesimpulan itu didapat setelah dua pertemuan singkat yang saya lakukan di sela-sela kesibukan mengejar tenggat naik cetak majalah. saya memang punya dorongan aneh, setiap deadline pinginnya ketemu teman. makan malam atau siang bareng. sudah menjadi kebiasaan saya menyelinap pergi saat deadline. kebiasaan yang pasti dikutuk rekan sekantor saya. pembelaan saya: saya butuh hiburan dan tidak mau jadi gila di kantor.

jadi... pertemuan pertama adalah dengan teman dekat saya sewaktu kuliah. dia teman seangkatan dan sejurusan. sudah lama sekali kami tidak bertemu karena setelah kuliah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. banyak sekali kabar dia yang belum saya ketahui, demikian pula dia yang banyak tidak tau kalau saya sudah pindah kantor lima kali, dan kabar yang menjadi topik utama siang itu: kenapa akhirnya saya putus dan menikah dengan pria yang menjadi suami saya sekarang.

pada sesi pertemuan bersama kawan lama ini, kami sampai pada kesimpulan yang sama: penyesalan. kenapa kami setia dan hanya pacaran dengan satu orang pria selama kuliah? iya saya memang hanya pacaran satu kali, dan tidak pakai selingkuh, selama kuliah. keputusan yang saya sesali sampai sekarang. memang katanya penyesalan itu tidak baik, tapi saya harus mengakui kalau saya menyesal. karena memang itu yang saya rasakan. lagi pula, dari penyesalan biasanya datang pembelajaran.

lalu pertemuan kedua. saya bertemu dengan calon bos dalam rangka wawancara. maksudnya, dia yang mewawancarai saya.

saya memang sedang mencari pekerjaan baru, maka kembalilah saya pada rutinitas mengirim lamaran, menerima panggilan, wawancara, menunggu telepon. ini bukan rutinitas lama, ini rutinitas yang sudah biasa bagi saya yang sering berpindah-pindah pekerjaan.

kenapa saya senang berganti-ganti pekerjaan? karena saya bisa. karena saya mau membuka pilihan. karena saya tidak mau terjebak pada suatu pekerjaan atau tim atau kantor yang tidak nyaman.

nah, masalahnya kenapa saya tidak memiliki pikiran semacam itu saat pacaran? kenapa saya betah berada di situasi pacaran yang tidak menyenangkan. padahal itu kan hanya pacar, bukan suami. pacaran dan pernikahan adalah dua hal yang sangat berbeda. dan saya baru sadar kalau seharusnya saya tidak perlu sebegitu setianya pada pacar. pacar = pekerjaan, bukan suami, tidak perlu setia kalau tidak cocok. masih banyak pria lain yang bisa dijadikan pacar baru.


*yuk, cari pacar baru!

setelah delapan tahun menjadi wartawan

saya beruntung bisa menjalani profesi ini. profesi yang membuat saya bisa melakukan hobi menulis dan membaca. setelah delapan tahun, kesimpulan saya cuma dua:

1) industri ini tidak menghargai waktu para pekerjanya, dan

2) perusahaan media adalah perusahaan yang tidak ramah dengan perempuan, terutama yang sudah punya anak.

kesimpulan ini jangan terlalu diambil hati dan diseriusi. itu hanya kesimpulan subyektif saya yang pengalamannya hanya sebegitu. pasti banyak wartawan perempuan yang nasibnya jauh lebih baik dari saya, yang bisa dengan santai bekerja sambil merawat anak di rumah, yang tidak perlu menjalani deadline hingga subuh menjelang, yang tidak perlu membuang waktu akhir pekan untuk liputan.

meskipun mungkin juga emosional, kesimpulan yang subyektif ini membuat saya berpikir: mungkin sudah saatnya saya berganti profesi.

tentang ambisi



kepala tiga dan masih dalam posisi editor. padahal, teman teman dekat saya sudah ada dua orang yang menjadi redaktur pelaksana. mereka beberapa bulan lebih muda. teman sekantor saya bahkan ada yang lebih muda, tapi sudah mendapat label senior di belakang jabatan editornya.

saya memang bukan orang yang ambisius. jabatan hampir tidak pernah menjadi hal yang penting dalam kehidupan saya. saya juga tidak pernah memiliki target tertentu untuk masalah karir. tidak berarti teman-teman saya itu orang yang ambisius ya... pekerja keras iya. berarti saya bukan pekerja keras dong? mungkin demikian adanya.

saya bilang 'hampir' tidak pernah menginginkan jabatan tertentu karena pernah ada sebuah jabatan yang saya inginkan, tapi tidak saya peroleh. masa itu dapat dikatakan satu-satunya periode saya memiliki ambisi. itu terjadi saat saya menempuh pendidikan tingkat atas di sebuah sekolah kejuruan.

saya memilih sekolah kejuruan karena punya cita-cita menjadi disainer. cita-cita yang menguap selepas saya kuliah di fakultas sastra dan jatuh cinta pada profesi penulis. di sekolah kejuruan itu saya mendapat cap anak pintar sejak pertama kali menginjakan kaki. saya lulusan sebuah sekolah menengah pertama swasta yang bereputasi tinggi di kota hujan. banyak yang bertanya kenapa saya mau "turun pangkat" ke sekolah kejuruan yang tidak dikenal dan berprestasi pas-pasan. selain pelajaran membuat pola dan menjahit baju yang saya idamkan, fasilitas asrama putri menjadi daya tarik tersendiri di sekolah pilihan saya itu.

singkat cerita, dimulailah petualangan saya di sekolah yang hanya menerima perempuan sebagai muridnya ini. cap murid pintar itu membawa motivasi tersendiri bagi saya. dan, tanpa harus berusaha keras saya dapat dengan mudah mempertahankan peringkat satu tiap semesternya (lupa waktu itu semesteran atau caturwulan ya?). namun bukan ranking satu saja yang saya idamkan, saya berniat mendapat nem dengan rata-rata delapan, dan sttb dengan rata-rata di atas tujuh koma lima. konon, hanya dengan nilai demikian seorang anak smk bisa lolos umptn (nama lawas ujian masuk perguruan tinggi negeri).

ambisi saya ini sulit saya capai karena kualitas pendidikannya tidak memadai. untunglah saya dan teman-teman asrama mendapatkan pelajaran tambahan dari kakak mahasiswa di ipb sehingga dapat mengejar ketinggalan dari sekolah umum dan bisa mengerjakan soal ujian nasional. ini bukan ambisi yang akhirnya tidak bisa saya peroleh. saya berhasil mendapatkan nilai nem dan sttb rata-rata tertinggi di antara lulusan sekolah kejuruan se-jawa barat. saya lolos umptn. dan saya mencatatkan sejarah baru di sekolah itu.

satu hal yang saya inginkan dan tidak kesampaian kala itu adalah menjadi ketua osis. saya dikalahkan oleh sahabat saya sendiri yang secara akademis jauh di bawah saya, tapi secara interaksi sosial lebih disenangi banyak teman dan guru. bisa dikatakan itulah satu-satunya ambisi berkaitan dengan jabatan yang saya inginkan. bahkan, saya tidak pernah menginginkan jabatan apapun saat kuliah. walaupun saya sangat aktif di berbagai organisasi mahasiswa.

itu berlanjut hingga saya bekerja. jika dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki ambisi memperoleh jabatan tertentu, saya bisa dikatakan bukan pekerja keras. namun, bukan berarti pekerjaan saya berantakan. sama seperti saat sekolah di smkk. saya bisa bekerja dengan santainya dan tetap memenuhi target tenggat waktu atau kualitas tulisan. menurut saya, kalau bekerja itu kita cukup menjadi seorang yang profesional. bekerja sesuai bayaran, sesuai tugas yang diberikan. mendedikasikan hidup dan waktu berlebihan pada pekerjaan, menurut saya konyol. terlalu banyak yang bisa dinikmati dalam hidup, sayang kalau kita hanya mendekam di kantor mulai pagi hingga larut malam.

saat anda membaca ini mungkin saya yang malah dibilang konyol karena tidak berambisi. tidak mau mencurahkan seluruh kemampuan pada pekerjaan. buat apa? tanpa melakukan itu semua saya sudah mendapatkan yang saya mau: pekerjaan yang tidak membebani hidup, rekan kerja yang bisa diajak dan membuat tertawa, penghasilan yang memadai, serta karir yang terus meningkat (meskipun untuk meningkatkannya saya harus pindah pekerjaan berkali-kali). saya senang, karena tanpa ambisi saya bisa menikmati hidup. percuma punya ambisi kalau kemampuan tidak mencukupi.

*ambisi saya terkini: cari kerja yang lebih manusiawi

berharap kaya



bukan tinggal di apartemen dengan mobil dan sopir pribadi, tapi tinggal di sebuah rumah kecil dengan halaman di sekelilingnya. tidak mau di tengah kota, tapi di tempat yang hawanya sejuk tanpa perlu pasang ac. tiap hari ke warung dan pasar dengan sepeda. tidak banyak yang dibeli karena cabai, tomat, dan buah-buahan bisa petik dari kebun belakang. penghuni rumah tiga orang ditambah dua anjing dan tiga kucing. sesekali ada yang datang, bantu menyuci, setrika, dan merapihkan rumah. kantor hanya sepetak ruang dengan sambungan internet di tengah rumah, bersebelahan dengan karpet kecil tempat anak bermain. dia tontonan dan hiburan kami tiap hari.
*harapan yang sebenarnya tidak terlalu sulit diwujudkan, jika mau* 

duka cita bagi setia



mari kita
tundukan kepala
heningkan cipta
bagi setia
yang mati terjerat
rentang perselingkuhan
yang entah di mana indahnya

bangkit dan angkatlah
jasad setia yang kaku
ditinggal kepercayaan

jalanlah bersamanya
hantarkan setia
ke pemakaman umum
tempat kejujuran, janji, dan harapan
berbaring dalam keabadian

segeralah masukan setia
dalam liang lahat
di tengah derai duka
tidak ada artinya dia hidup di dunia
jika perselingkuhan masih berjaya



(untuk seseorang yang sia-sia mengharapkan maaf)

bandung-batukaras, 2 Januari 2009

sepuluh hal tentang saya

tulisan ini dibuat empat tahun yang lalu dan sekarang hanya dua hal yang masih saya lakukan
sisanya tinggal sejarah.

 
akan berhenti kalau di jalan ketemu kucing untuk menyapa dengan, "pus... pus..." atau mengelus mereka. kehebohan gue pada kucing dan anjing hampir sama dengan kehebohan perempuan-perempuan pada umumnya kalo ketemu anak bayi. tapi kalau sama bayi atau anak kecil gue tidak akan bereaksi apa-apa.

tiap hari minimal 5-10 jam harus dengerin musik, kalau nggak bakal pegel-pegel otaknya. jenisnya apa aja, mulai dari metallica sampe vina panduwinata. biasanya nyetel kaset pagi-pagi sambil dandan atau jadi autis dengan head phone di kantor.

masih beli kaset, bukan cd atau mengunduh mp3.

nggak bisa jalan-jalan tanpa pakai cincin, anting, kalung, gelang yang rada-rada gede dan mencolok. gue pernah pulang lagi ke kost, setelah berjalan lebih dari 1 km karena lupa pakai gelang.

koleksi baju dalem warna-warni beranekaragam bentuk. bakal gatel-gatel kalau terpaksa pakai bh yang nggak sepasang sama celana dalemnya. seperti kata temen gue: kalo tiba-tiba gue pingsan atau kecelakaan trus paramedis yang menyelamatkan melihat baju dalem gue beda warna kan malu, bok....

menilai kegantengan cowo dari cara jalannya (dan dada yang bidang, dan pundak yang tegap, dan suara yang berat serta berwibawa)

miss matching. sering bengong di depan lemari selama 10-20 menit untuk menemukan baju yang cocok dari atas, bawah, sampe dalem. trus kalau habis beli tas baru, biasanya gue bakal sibuk nyari sepatu baru yang cocok sama tas itu (habis itu nyari jaket yang matching, trus celananya, trus kaosnya... jadi ngerti kan selama ini duit gue habisnya ke mana...)

sering mengirimkan sms curhat ke beberapa teman (bukan hanya satu) ketika dalam situasi dan kondisi yang menguras emosi. kadang isinya berlebihan untuk mengundang simpati.

seneng nempel, melipat, dan mengunting. dari tk, prakarya gue dapet nilai 8 ke atas mulu! makanya sekarang kamar gue penuh dengan tempelan foto. dulu waktu ngontrak juga begitu, dindingnya penuh poster, lemari penuh gambar tempel dan post card. gue juga mengumpulkan wishing star, melipat sedotan abis makan, dan bikin burung kalo ada kertas nganggur.

lebih memilih untuk dicap sombong atau dibenci daripada harus berbasa-basi.

14.3.12

mencobamu

membereskan diri sebelum kita bertemu
membersihkan hati dan hari dari nama lama yang seharusnya sudah pergi
mengatakan iya padamu dan tidak padanya
menghapus bekas bibirnya di bibirku sebelum bibir kita bertemu
mencoba untuk jatuh pada cinta dan percaya pada keberadaannya
membuatmu mau untuk ikut menjaga agar hati tak patah
menunggu... menunggu... dan tidak terburu-buru

perempuan yang selalu bernyanyi tapi tidak pernah menari


jaman dahulu kala di sebuah kota metropolitan jakarta, hiduplah seorang perempuan yang selalu bernyanyi namun tidak pernah menari. ketika pergi ke sebuah tempat hiburan untuk berkaraoke bersama teman-temannya, dia hanya akan bernyanyi sambil duduk. sesekali kepala atau pundaknya bergoyang mengikuti alunan musik, tapi itu bukan sebuah tarian.
     sementara teman-temannya mengangkat tangan ke udara sambil bergoyang pinggul, dia tetap duduk dan hanya bisa menyumbangkan senyum atau tawa pada mereka yang menari. bila ada yang berhasil memaksanya menari, orang hanya akan melihat tubuhnya bergerak kaku, tak pula sejalan dengan irama lagu. tahu begitu, mereka tak lagi mau mengajaknya bergoyang seiring lagu.
     perempuan yang selalu bernyanyi ini bukan pelanggan tempat karakoke, bukan kontestan ajang adu bakat di televisi. dia tidak pernah berniat menjadikan suaranya alat mencari nafkah. tapi, ia selalu bernyanyi. ia bernyanyi ketika bekerja di depan komputer kantornya. tak peduli semua telinga menangkap suaranya dan mulut mereka tersenyum melihat tingkahnya.
     kala makan malam di sebuah restoran temaram bersama seorang pria, ia bernyanyi mengikuti lagu-lagu romantis yang mengalun lamat-lamat. setiap bait diselingi suapan. ketika lagu memasuki intro, ia mengisinya dengan obrolan. kemudian, kembali bernyanyi. si pria yang sudah sangat mengenalnya, tak protes atau komentar, hanya menikmati kebersamaan mereka.
     ia bernyanyi kala sedih. air mata tak dapat mencegahnya bernyanyi. perempuan itu terus bernyanyi meski getar rasa terdengar dalam suaranya. ia bernyanyi sendiri, di kamarnya yang sepi. ketika marah, ia akan memutar tombol volume hingga telinganya tak dapat mendengar suara lain selain musik yang keras menghentak-hentak. tenggorokannya akan kering karena ia akan terus menyanyikan puluhan lagu hingga lelah dan tertidur. urat di lehernya akan tampak menonjol karena bekerja keras menggetarkan pita suara.
     jatuh cinta dimunculkannya dalam lagu-lagu cinta. patah hati disembuhkannya dengan dengan menjerit dalam tembang kenangan. ia tetap bernyanyi dalam berbagai macam suasana hati. setiap ada lagu favoritnya yang tertangkap daun telinga, mulutnya otomatis ikut bersuara. jangan salah, lagu kesukaannya bukan hanya satu-dua, ratusan banyaknya. beberapa ia memberikan label “lagu gue” untuk lagu-lagu yang merekam kenangan hidupnya.
bagaimana bila tak ada tembang yang mengalun? ini jarang terjadi, karena mesin pengolah suara di kamar tidurnya hampir tidak pernah berhenti berbunyi memainkan ratusan koleksi kasetnya. di jalan ia akan memasang walkman. bila ruang kantornya sepi musik ia akan berteriak meminta musik.
    ketika di atas motor tanpa walkman, perempuan bersuara biasa-biasa saja itu tetap bernyanyi. anda tidak akan tahu, karena mulutnya tertutup bandana dan suara lalu-lintas kendaraan menenggalamkan nyanyiannya. tapi dia bernyanyi, berteriak mengalahkan deru mobil. dan tentunya, ia juga bernyanyi di kamar mandi.
    lalu, kenapa dia selalu bernyanyi dan tidak pernah menari? ia pun tak tahu itu. mungkin musik hanya mampu menggerakan mulut dan pita suaranya, dan bukan tubuhnya.

tentang lelaki kecilku


(ini dibuat saat dia masih satu tahun)



suaranya seperti namanya menderu, membuat orang-orang panik jika mendenger dia menangis

mukanya persis bapaknya, cuma bibirnya yang mirip mamanya

berkat kerakusannya menghisap dan asi mamanya yang melimpah, belum 1 bulan berat badannya naik 1kg dari berat lahir
(berat lahir 3,7kg berat pas pulang dari rs 3,4kg berat pas 3 minggu 4,4kg)

selalu mengulat lalu tersenyum sehabis menyusu

senang berlatihan teater alias mengubah-ubah ekspresi muka kalau sedang tidak bisa tidur

menangis kencang sebelum pipis. diduga buat ngerjain mamanya, karena kalau dia nangis dan pas diperiksa nggak pipis atau pup pastinya dia mau mimik. pas dipangku dalam posisi menyusui dia akan pipis dan basahin baju mamanya

sering kecing atau pup lagi beberapa detik setelah popoknya diganti

senang tidur dengan posisi tangan direntangkan ke samping atau diangkat ke atas

kalau tidur suka kagetan dan baru bisa tenang kalau megang jari mamanya

kentutnya kenceng kaya suaranya. pernah kaget dan kebangun trus nangis gara-gara suara kentutnya sendiri

punya tanda lahir kecil di kaki kanan

senang berada di tengah orang-orang yang lagi ngobrol. kalau ada tamu dan dia diajak ke ruang tamu pasti anteng dan bisa tidur nyenyak

kalau siang-siang dia rewel banget, pertanda beberapa jam lagi akan hujan. kerena, menjelang hujan pasti sumuk

lagi seneng-senengnya main ludah

di kelambunya dipasang mainan boneka kecil warna-warni yang suka dia jadiin samsak tinju. kalau udah mainan tinju matanya berbinar-binar dan nafasnya cepet tanda senang, tapi lama-lama suka sebel sendiri trus mulai nangis deh

setiap mau menyusu pasti suka jual mahal, sok nggak mau, geleng-geleng, dan dorong-dorong mamanya, tapi kalau posisinya udah pas langsung nempel dan kalau emang laper bisa sampe 1/2 jam menghisap

santai aja nyusu asi dari botol apapun dan tetep doyan menghisap asi langsung dari mamanya

waktu disuntik pas imunisasi nangisnya gak ada semenit. padahal ancang-ancang nangisnya sudah heboh banget. nahan sakitnya sampe mukanya putih trus merah banget, suaranya juga kenceng. tapi itu nggak lama. dia langsung berenti nangis dan ngelanjutin tidur lagi. baru bangun pas udah sampe rumah

seneng banget hujan dan benci subuh. tiap hujan dia tidur nyenyak dan tiap subuh rewel.

selain suka ditimang-timang seperti bayi pada umumnya, dia juga suka diajak ngomong (dengan nada suara biasa bukan dengan suara dibuat-buat dan bahasa cadel) untuk nenangin pas nangis

glow old with you

mengenang kosong tujuh-kosong delapan-kosong sembilan


Jangan kau lupa.
Aku menerima seluruhmu.
Dan kalau kau sebut aku belahan jiwa,
maka tak ada yang harus kutakutkan.


Kita sepakat membangun rumah termasuk
membesarkan anak
Bahwa kita menghormati dan menghargai
perbedaan kita, kalau ada.
Bahwa yang lebih utama adalah kemanusiaan kita,
yang berkembang dan bahagia
karena usaha bersama.


Sisanya, bagaimana memanfaatkan apa yang kita
punya untuk kebaikan manusia lainnya.
Hanya itulah soalnya.
Karena hanya itulah kehidupan.


Kutipan dari monolog Cairan Perempuan
(Riris K. Toha Sarumpaet)



kalimat "glow old with you" dan foto angrek layu di atas karya titi kusumandari
*yes it's glow not grow, karena kami mau berkilau bersama hingga tua*

salam

perkenalkan, saya si senang berkicau. anda bisa menemukan saya dengan nama @newroosee  atau di blog lawas  dan blog baru  beberapa kicauan sudah dipublikasikan di kedua tempat itu. 
selamat membaca.