21.3.12

gertak sambal

orang jaman sekarang senang menggertak di sekolah, jejaring sosial, dan tentunya di kantor. mereka yang kerjanya menggertak bawahan biasanya tidak percaya diri. mereka ingin orang lain pun demikian. gertakan dilancarkan untuk menggempur pertahanan kepercayaan diri kita.

ini saya rasakan benar di kantor. saya merasa selalu digertak. ide-ide saya sering dimentahkan dan suara saya hampir tidak pernah didengar. mungkin mereka menganggap saya tidak tahu apa-apa, selalu salah jika mengatur pemotretan, sering salah ketik, tidak bisa mengedit dengan baik dan benar, serta tidak memiliki selera dan gaya yang sesuai dengan majalah tempat saya bekerja. sebut saja namanya pembantar.

sering sekali saya mendengar, "temanya kurang pembantar", "model yang dipilih kurang 'mahal' dan nggak pembantar", "judulnya nggak pembantar", saya tidak pembantar. argumentasi basi ini sering saya dengar sejak saya di majalah gaya (nama disamarkan). sebelum saya dipindahkan ke pembantar, mereka juga bilang saya tidak gaya.

memang yang pembantar itu seperti apa? kalau dia bilang model artikel fitnes saya seperti "kebanjiran" karena tidak pakai kaus kaki, ternyata majalah pembantar dari negara asalnya banyak yang menampilkan model tanpa kaus kaki saat memperagakan gerakan fitnes. mereka bilang wajah model itu kurang "mahal," tapi di edisi lama banyak wajah yang lebih "murah" tetap bisa masuk. kalau mereka cerdas sih, argumentasi untuk menyuruh foto ulang bukan dua alasan itu, tapi: "lengannya besar. ini kan latihan untuk mengencilkan lengan, harusnya cari model yang lengannya kecil."

lalu tentang tema artikel. dia bilang artikel pembantar itu tidak pernah yang negatif. jadi yang diangkat jangan tema "jenis kemarahan" tapi contoh situasinya dan bagaimana cara mengatasinya. agar semua senang, saya buatlah artikel untuk edisi april itu dengan saran dia. lalu, jeng jeng... pembantar dari negara aslinya mengeluarkan edisi mei dengan tema "apa jenis kemarahan anda?" tuh, kan... masih mau bilang nggak pembantar?

jadi yang pembantar itu seperti apa? yang kaku dan membosankan karena isinya hanya contoh peristiwa atau kasus lalu diikuti dengan solusi? atau yang begitu-begitu saja karena selalu harus membahas yang positif? mana ada sih tema kontroversial (yang biasanya menjual) tapi tidak negatif? kenapa kita harus mengikuti pedoman lama yang sudah ditinggalkan oleh si pembuat pedoman? si majalah aslinya saja sudah membuat artikel investigasi limbah nuklir lo.

kalau boleh mengeluarkan kalimat "nggak pembantar banget," saya sih akan menunjuk kata sapaan "ciiiin!" di akhir catatan pengantar editorial ya...

itu baru gertakan tentang saya yang dibilang tidak punya selera sesuai majalah pembantar. masih banyak gertakan lain yang membuat saya kehilangan rasa percaya diri. saking seringnya lupa, salah sebut, dan salah tulis, saya selalu mengandalkan situs mesin pencari dan kamus dalam jaringan. saya sering diam lama sebelum menjawab karena membuka salah satu atau keduanya terlebih dahulu. mungkin karena itulah, mereka berpikir saya tidak tahu apa-apa dan tidak pernah mau mendengarkan pendapat atau perkataan saya.

saya sih pasrah saja diperlakukan seperti itu. saya lebih baik dibilang tidak tahu apa-apa  daripada saat saya membuka mulut: 1) salah menyebut bran. dan, mengatakan kalau *estle itu punya bran air dalam kemasan bernama p*r*it yang dibuat dari air embun. atau 2) mengatakan kalau flu singapura itu datangnya dari negara singapura karena banyak orang di jakarta yang pergi ke sana. karena itulah penularan flu singapura banyak terjadi di sekolah-sekolah internasional. dan 3) dengan lantangnya bilang tidak tahu kristin chenoweth itu siapa karena dia bukan orang terkenal.

reaksi saya atas tiga hal itu: 1) saya tahu dia salah sebut bran, tapi saya diam saja. saking seringnya digertak, saya yang kehilangan percaya diri dan tidak berani mengoreksi pernyataan dia. saya sampai harus membuka mesin pencari untuk menyakinkan diri kalau dia memang salah sebut.

2) saya diam saja saat mereka berdua berbincang tentang flu singapur. saya hanya gatal ingin menunjukkan ini pada mereka. tidak mungkin saya menyambar dalam perbincangan kedua atasan itu, jadi saya hanya berkicau di twitter dan bilang "gatel, pingin ngetwit ini" sambil merujuk ke blog saya itu. kalau mereka itu ibu-ibu biasa, saya akan memaklumi ketidaktahuan mereka. sayangnya, salah satu dari mereka itu mantan redaktur pelaksana sebuah media untuk ibu dan anak.

3) komentar saya (yang tentunya juga tidak sempat dikatakan selantang omongan dia) "kalau kamu tidak tahu, bukan artinya dia tidak terkenal bukan?" coba deh baca dulu artikelnya. dan jangan bilang dia lebih dikenal karena glee. dia itu sampai main di glee karena dia bintang broadway dan pemenang tony award. bukannya sudah banyak orang indonesia yang tahu ya, kalau jadi bintang broadway lebih bergengsi dibanding main di beberapa episode di glee?

silakan saja kalau mereka mau terus mengumbar gertak sambal. saya tidak perlu membalas, cukup diam, dan terus mengingatkan diri kalau narasumber saya lebih banyak, kalau hari ini saya menjadi satu-satunya wartawan yang berhasil menyelesaikan tts dari sekitar enam puluh perserta yang hadir, kalau saya masih merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa tapi masih mau belajar dan membaca...

ah, gertak sambal menurut kbbi kan hanya ancaman untuk menakut-nakuti. dan, penggertak salah satu artinya adalah sesuatu yg dipakai untuk membuat berani. semoga saja mereka memang senang menggeretak untuk membuat saya menjadi berani dan bukan buat tujuan lain. *berani buat mencari pekerjaan lain maksudnya*

2 komentar:

  1. Ihhhh gemes bacanyaaaa!!!! Siapa sih mantan redpel majalah ibu dan anak itu? Kurang lama tuh dia jadi redpel..keselllllll.

    Yg tabah ya bu, di dunia ini jauh lebih banyak manusia yg menyebalkan daripada yg cerdas dan menyenangkan. Dirimu manusia kelompok ke-2 yg sekarang kian langka :)

    BalasHapus
  2. berharap dikelilingi manusia kelompok kedua. hai kamu, nanti kalau pulang kita kerja bareng aja gimana?

    BalasHapus