19.8.13

tujuh belas agustus



mulai banyak yang tidak percaya dengan indonesia, pancasila, dan konsep kesatuan indonesia. katanya kemerdekaan itu manipulasi, katanya banyak daerah yang merasa terjajah dan terpaksa bergabung dengan n.k.r.i.

saya gak ngerti soal politik dan tata negara tapi menurut saya negara yang kedaulatannya sudah diakui di mata dunia itu sama seperti pernikahan yang sah di hadapan hukum dan agama. semua proses administrasi dan sosial akan lebih mudah dengan status pernikahan.

salah satu pihak bisa saja minta cerai, tapi yakin ya mau merusak pernikahan demi ego masing-masing? bener gak sih yang dipikirin rakyat/anak? jangan-jangan diri sendiri?

alasan pernikahan memang ada yang terpaksa, dijodohin, dibohongin, dsb. tapi kalau anak sudah banyak dan masih sangat tergantung dengan orang tua mereka bagaimana? tetep tegakah kita bercerai?

kita bisa bilang ke mana-mana kalau belum merdeka. itu sama saja dengan ngaku lajang padahal sudah menikah. kita punya negara yang diakui kedaulatannya. dari pada sibuk menyukseskan "perceraian" bisa gak energinya digunakan untuk memajukan pertanian, memberdayakan anak jalanan, mengurangi urbanisasi, atau memajukan daerah lain selain pulau jawa? semoga jawabannya bisa.

selamat ulang tahun "pernikahan", bangsa indonesia.




*muat ulang dari path

8.7.13

itu gampang



jadi penulis itu gampang. jadi penulis yang produktif itu susah

jadi cantik itu gampang. jadi cantik dengan cara yang sehat itu susah

jadi kaya itu gampang. jadi kaya yang gak bikin orang lain sengsara itu susah

jadi terkenal itu gampang. jadi terkenal tanpa membuat diri sendiri tampak bodoh itu susah

jadi diri sendiri itu gampang. jadi diri sendiri tanpa menyinggung orang lain itu susah




18.6.13

dari salut



berikut lema pertama kata 'salut' dalam kamus besar bahasa indonesia dalam jaringan:

1sa·lut n sampul; sarung; pembungkus; selongsong: -- giginya dr emas; ber·sa·lut v berlapis (bagian luar); bersampul; bersarung; berbungkus: kini tubuhnya tinggal tulang - kulit; giginya - emas; me·nya·lut v melapis; menyampul; membungkus: ia - keris pusaka itu dng kain putih; me·nya·luti v memberi lapisan; melapisi;
ter·sa·lut v telah disalut;
sa·lut·an n hasil menyalut;
- lembut bahan (spt tekstil, lapisan, peratan pegas lembut) untuk melapisi jok kursi dsb;
pe·nya·lut n sesuatu yg digunakan untuk menyalut;
pe·nya·lut·an n 1 proses, cara, perbuatan menyalut; 2 Kom peretakan plastik pd lembar kertas (spt pd kartu mahasiswa, kartu tanda penduduk) sbg lapisan pelindung 


lalu, berikut penemuan saya dalam penggunaan kata tersebut:

senja yang bersalut rindu lebih manis dari malam yang berselimut sepi

tiap kata tersalut eufemisme agar telinga dapat menelannya. meski pada akhirnya pahit itu tetap tercerna, di hati.

menyaluti hati dengan sesuatu yang keras hanya membuatnya kehilangan elastisitas

30.5.13

#andaisaja

#andaisaja yang dipersembahkan oleh 
"semoga" dan "gerimis"-nya
kla project:

 

sedang menghabiskan #andaisaja untuk makan malam. supaya besok pagi tidak ada lagi yang perlu dihagatkan untuk sarapan

si mimpi mati gantung diri. dia putus asa mendengar semua #andaisaja dipenjara duo penguasa: etika dan logika.

beli satu #andaisaja dapat bonus kecewa seumur hidup

#andaisaja disimpan oleh diam. diletakkan perlahan dalam mimpi pungguk, si pemuja bulan.

barisan itu dimpimpin oleh kenyataan. di belakangnya ada #andaisaja yang dibuntuti penyesalan

#andaisaja yang dulu terkurung dalam laci berhasil melarikan diri. sekarang dia berkeliaran di jalan lengang yang sering mereka lalui

beberapa meter mejelang garis finis dalam sebuah perlombaan menempuh hidup baru, #andaisaja beterbangan menerpa wajah si pelari kecil

#andaisaja datang menyelinap di antara lini masa yang mengedipkan mata


mari berhenti membicarakan cinta



orang tidak akan percaya kalau saya, pencinta puisi-puisinya sapardi djoko damono dan lagu-lagunya kla project, mengajak kita untuk berhenti membicarakan cinta. saya mengajak semua orang yang sudah menikah untuk berhenti membicarakan cinta, bukan karena tidak lagi percaya. saya masih percaya kok akan reaksi kimia yang dapat membuat seseorang menjadi penyair dalam sehari itu. iya memang, saya tidak pernah mengatakan "aku cinta kamu" kepada suami, tapi bukan berarti saya tidak mencintainya kan?

selain kepada orang yang sudah menikah, saya terutama ingin mengajak semua orang yang berselingkuh untuk berhenti membicarakan cinta. ajakan kepada golongan ini tentunya tidak akan mendapatkan protes seperti pada golongan yang disebutkan sebelumnya.

kenapa berhenti membicarakan cinta? karena kata tersebut terlalu abstrak, sulit dimengerti, dan terlalu sering diekploitasi sebagai alasan dari tindakan-tindakan irasional. mari kita lupakan cinta sejenak dan membicarakan suatu hal yang lebih nyata: komitmen.

menurut kamus besar bahasa indonesia dalam jaringan, komitmen merupakan perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu.

bagi saya, yang utama dalam pernikahan bukan cinta tapi komitmen. tidak semua pernikahan berlandaskan cinta, tapi semuanya pasti memiliki perjanjian yang mengikat. mengikat bisa dalam segi hukum, emosional, adat, dan kepercayaan.

perselingkuhan juga demikian, yang utama bukan cinta tapi komitmen. bagaimana perjanjiannya? nah, di sinilah perselingkuhan menjadi lebih rumit dari pernikahan, karena perjanjiannya seringkali tidak jelas. ikatannya pun kebanyakan sifatnya hanya emosional.

lalu, kenapa harus membicarakan komitmen? karena segala bentuk hubungan, baik itu pernikahan atau perselingkuhan akan menjadi lebih jelas, bisa dimengerti, bila semua pihak memahami komitmennya. 


saat menikah perjanjiannya bagaimana? kok bisa kemudian berselingkuh? saat mulai menjalin hubungan perselingkuhan, yang dijanjikan apa? kok bisa yang satu berharap dinikahi sementara yang lain cuma ingin main-main? kalau sudah tidak ada yang menepati perjanjian awal, pernikahan menjadi sekadar status tanpa komitmen. kalau dalam hubungan perselingkuhan komitmen tiap pihak berbeda, ya buat apa buang-buang waktu. tuh, jadi lebih sederhana kan kalau yang dibicarakan komitmen dan bukan cinta!

jadi, orang selingkuh itu bukan karena tidak cinta lagi pada pasangannya. kalau yang dibicarakan cinta, akan bermunculan ribuan alasan perselingkuhan seperti: dulu kami menikah karena dia sudah hamil; sejak punya anak jadi tidak pernah bercinta; dia bertambah gemuk dan tidak menarik lagi; bertemu orang yang bisa memahami saya; dia jadi lebih memerhatikan anak; dia kerja melulu; dll.

oke kamu menikah karena keburu hamil, lalu komitmennya bagaimana? kalau cuma sekadar ingin memudahkan pembuatan akte kelahiran anak dengan nama orangtua lengkap dengan status menikah, silakan berselingkuh kemudian bercerai setelah anak lahir. namun, sepertinya tidak banyak yang memiliki komitmen semacam itu. kalau komitmennya ingin menjadi pasangan orangtua yang bertanggung jawab ya jangan selingkuh. kalau tiba-tiba mabuk dan tidak bisa mengendalikan diri sehingga terdampar di kasur, bercinta dengan orang lain? ya lakukan satu kali saja. kalau berkali-kali, artinya kamu sudah tidak bisa berkomitmen untuk menjadi pasangan orangtua yang bertanggung jawab. masih bisa menjadi orangtua, tapi tidak berpasangan.

kalau pasangan berubah, cinta memudar, badan menggemuk bagaimana? pastinya hal-hal semacam itu tidak terjadi dalam semalam. ada proses dan pembiaran akan proses itu sudah menunjukkan kalau kamu sudah tidak mau berkomitmen.

soal godaan dari luar? akan selalu ada orang yang lebih seksi, lebih mengerti, lebih cerdas, lebih kaya, lebih romantis, lebih baik, dst. populasi dunia kan terus bertambah, dan kemudahan komunikasi juga membuat peluang bertemu mahluk-mahluk penggoda itu semakin besar. boleh saja menikmati godaan dan perasaan dikagumi itu, tapi dalam batas-batas yang tidak merusak komitmen. terdengar sulit untuk dilakukan ya? ya iya lah... kata siapa mempertahankan pernikahan itu gampang? tentunya kamu sudah tahu ini, karena sudah memikirkannya ribuan kali sebelum memutuskan menikah.

kalau soal pasangan yang orientasi hidupnya hanya ke anak atau ke pekerjaan? please deh, kalau bosan dengan hidup dan haus akan perhatian pasangan, coba cari kesibukan yang bukan berselingkuh. pernah dengar kata hobi kan? itu lho baca buku, memasak, merajut, merenda, menjahit, jalan-jalan, memelihara binatang... bisa aja sih kalau hobinya selingkuh, tapi emang nggak capek ya membuat komitmen baru dengan beberapa orang sekaligus? silakan aja sih kalau sanggup menanggung risikonya.



*rangkuman perbincangan warung kopi

27.3.13

Mental Penggemar



Penggemar itu sama kaya cinta. Dua-duanya buta. Tidak semua, tapi seringnya begitu.

Saya penggemar Adam Levine dan suka sebal kalau ada yang bilang dia gay. Padahal nggak ngaruh juga kan orientasi seksnya dengan penampilan dan musiknya. Namanya juga penggemar... Kalau sebutan gay itu dikatakan seseorang dengan nada negatif, ya pasti saya dengan butanya bilang "Nggak kaleee... dia gak gay!" Padahal, kalau saya mau sedikit membuka mata, kelihatan kok ciri-ciri gay di Mr. Levine ini. Mungkin yang bikin saya kesal bukan dia gay atau tidak, tapi intonasi negatif yang mengikuti tuduhan gay itu.

Hal yang sama terjadi di dunia kesehatan. Sekarang banyak dokter yang menjadi selebriti. Seminarnya bagaikan konser yang dihadiri beramai-ramai. Twitternya dibanjiri follower yang bertanya ini-itu. Saking butanya, mereka sampai lupa, dokter ini spesialisasinya apa. Ada yang bertanya masalah kehamilan ke dokter anak; menanyakan pola makan ke psikolog; dan pertanyaan-pertanyaan bodoh lain. Dokter yang masih sadar biasanya akan membiarkan pertanyaan bodoh itu tidak terjawab. Atau jika memang punya waktu, mereka akan merekomendasikan rekan dokter lain yang lebih kompeten untuk menjawabnya.

Saking butanya para penggemar ini, mereka telan bulat-bulat perkataan para dokter. Bahkan tidak jarang yang menjalani perkataan tersebut dengan cara ekstrim.

Soal gerakan ASI Eksklusif yang dimotori oleh banyak dokter selebriti misalnya. Gerakan ini membuat susu formula dibenci dan dibilang berbahaya untuk dikonsumsi. Saya pendukung ASI Eksklusif, tapi tidak sebegitunya juga sampai mengatakan susu formula berbahaya. Susu formula itu mubazir bukan berbahaya. Kalau bahaya sudah ditarik dari peredaran dong... Iya memang industri susu formula di Indonesia itu sinting, tapi tetap saja mereka tidak bisa menjual "racun" bukan? Susu ya sama saja, mau itu bentuknya susu bubuk atau UHT, atau pasteurisasi. Susu bubuk kalau yang full cream kandungannya tidak jauh berbeda dengan susu UHT kok. Susu UHT juga sekarang bisa ditambahkan macam-macam, tidak beda jauh dengan susu bubuk yang identik dengan susu formula itu.

Kalau mau lebih kritis dan membuka wawasan sedikit, para penggemar ini harusnya tahu kalau gerakan ASI Eksklusif itu ada akibat generasi sebelumnya terlalu memuja susu formula. Sebenarnya kita cukup mengetahui manfaat ASI, memperjuangkan ASI eskklusif, mengurangi konsumsi susu formula dan segala bentuk produk susu lain. Kenapa harus dikurangi? Karena sebenarnya susu itu bukan minuman ajaib yang bisa memenuhi semua kebutuhan gizi seperti yang dikatakan dalam iklan. Kalau tidak bisa minum susu ya tidak masalah. Kebutuhan gizi masih bisa dipenuhi dari makanan biasa. Kalsium juga bisa diperoleh dari sumber lain. Susu menjadi berbahaya kalau konsumsinya berlebihan. Sama seperti makanan lain.

Contoh lainnya? Nasi. Ada dokter yang benci nasi seperti dia juga membenci susu. Kenapa dia begitu? Sebenarnya dia hanya ingin mengatakan kalau kita terlalu banyak mengonsumsi nasi. Di Indonesia, susu dan nasi sama-sama menjadi makanan yang diagung-agungkan. Salah? Iya, karena prinsip makanan sehat yang terbaru dan diakui oleh banyak pakar dan lembaga pangan internasional adalah seimbang dan beragam. Seimbang dengan panduan piramida makanan, beragam dengan prinsip semakin berwarna-warni semakin sehat. Jadi memang salah kalau tiga kali sehari makan nasi putih, padahal banyak jenis karbohidrat lain yang lebih sehat dari nasi putih. Namun, kalau demikian adanya apakah nasi itu jahat? Harus dibenci? Harus pantang makan nasi seumur hidup? Tidak harus begitu kan? Toh, dokter yang mengatakan jangan makan nasi dan mengganti sumber karbohirdrat hanya dari sayur dan buah itu, kadang juga makan nasi kok...

Sebenarnya kalau kita mau mencari tahu konsep utama yang ingin disampaikan para dokter itu, kita tidak perlu membenci makanan tertentu. Tidak usah pantang ini itu. Tidak perlu menyebar kebencian terhadap orang yang masih melakukan pola makan yang tidak sama dengan kita. Lagi pula, apakah kita yakin seyakin yakinnya kalau pola makan yang kita anut paling benar? Kalau apa yang dikatakan si dokter itu sudah terbukti secara ilmiah lewat penelitian klinis yang terpercaya?

Dokter-dokter itu juga baca buku kok. Apa yang dia ajarkan itu biasanya bukan hasil penelitiannya sendiri, bukan murni hasil pemikirannya. Mereka belajar itu saat kuliah atau dari buku yang dipublikasikan secara luas. Dan, kalau kita mau sedikit berusaha, kita juga bisa baca bukunya sendiri. Siapa tahu kita menemukan fakta lain yang luput dimengerti si dokter. Atau, kita bahkan bisa mencari penelitian yang lebih baru yang mungkin hasilnya tidak sama lagi dengan apa yang dikatakan si dokter itu. Pengetahuan kan berkembang...

Sebagai penggemar Adam Levine, saya tidak akan sakit atau mengalami gangguan makan dengan mempercayai kata-katanya. Dia pernah mengatakan kalau bukan gay. Saya percaya. Ya sudah sampai di situ saja efeknya. Separah-parahnya, saya hanya akan adu mulut dengan orang yang mengatakan sebaliknya. Mental penggemar saya tidak akan membahayakan hidup.

Lalu bagaimana kalau mental penggemar ini diterapkan di bidang kesehatan? Bodoh! Saya tidak akan berkata sekeras itu 10-20 tahun lalu, saat internet dan informasi tidak semudah sekarang untuk dijangkau. Kalau Anda bisa pakai twitter, berarti bisa buka google juga kan? Kalau Anda bisa mengeluarkan uang untuk mengikuti seminar parenting, berarti bisa beli buku atau majalah tentang kesehatan kan?

Bodoh aja sih kalau dengan rela berlelah mengubah pola makan, pola hidup, hanya dengan dasar sebuah perkataan dalam bentuk kultwit, buku, seminar yang sifatnya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Logika saja bisa salah lho... pembicara yang pintar bisa membolak-balikkan fakta dan membuatnya seolah menjadi logis. Coba cek informasi yang didapat. Jangan langsung percaya informasi baru, apalagi langsung mempraktekkannya. Ini masalah kesehatan lho... masalah medis... kalau salah, tubuh kita bisa kenapa-kenapa. Bisa sakit... Dokter itu juga biasanya bilang kok, kalau kita tetap harus konsultasi ke dokter, dsb. Buat apa mereka cuap-cuap kalau bukan menambah jumlah pasien.

Saya baru berbicara tentang pengemar dokter-dokter terkenal ya... Bagaimana dengan penggemar orang biasa tanpa gelar dan latar belakang medis yang memberikan "kuliah" tentang nutrisi dan kesehatan? Bodoh kalau penggemarnya percaya-percaya saja tanpa mengecek keakuratan omongannya. Hati-hati kalau yang diucapkan itu bombastis dan tanpa menyebutkan sumber. Ada sumbernya pun harus kita cek kok... Bodohnya kok pada percaya ya? Padahal dia sudah memberikan "peringatan" kalau itu hanya kibulan... Kalau begini siapa sebenarnya yang bodoh? Ya mereka yang bermental penggemar! Percaya buta dengan omongan yang belum tentu benar.

18.3.13

Orang Kaya Itu Tidak Ada

(muat ulang dari blog yang harusnya cuma buat senang-senang dan iseng-iseng ini. setelah dipikir-pikir, sepertinya lebih cocok masuk ke sini hehehe...)



Bagi saya, orang kaya itu tidak ada. Kesimpulan ini saya ambil setelah dua orang teman lama saya meminjam uang yang kurang lebih jumlahnya sama. Keduanya terpaksa saya tolak. Bukan karena tidak ada tabungan yang bisa dipinjamkan, tapi lebih karena masalah kepercayaan. Saya tidak bisa percaya mereka akan mengembalikan karena keduanya tidak pernah mengontak saya berbulan-bulan. Sekali-kalinya ada komunikasi, ya mereka ingin pinjam uang.

Oke, itu belum menjelaskan kenapa saya mengambil kesimpulan kalau tidak ada orang kaya. Jadi begini, dua orang teman itu yang satu profesinya ibu rumah tangga satu anak yang kadang menjual masakannya dan tiap hari membantu operasional sebuah rumah ibadah. Suaminya bekerja di bengkel dan baru-baru ini kehilangan pekerjaan. Saya tidak tahu apakah kemudian suaminya sudah bekerja lagi atau belum.

Satu teman lagi bekerja sebagai pengajar perguruan tinggi swasta. Dia juga menjadi direktur sebuah perusahaan kecil milik ayahnya. Suaminya seorang manajer sebuah perusahaan yang juga tidak terlalu besar. Mereka belum punya anak.

Dua orang dengan latar belakang berbeda dan kesulitan keuangan yang hampir sama dilihat dari kebutuhan uang yang ingin mereka pinjam.

Teman pertama itu hidupnya tergolong pas-pasan dan tidak bisa dikatakan kaya. Namun, dia berhasil menyekolahkan anaknya di taman kanak-kanak swasta yang terkenal mahal. Bukan demi gengsi, tapi demi kualitas pendidikan, dia dan suaminya rela berjuang. Jadi mereka juga tidak bisa dikatakan miskin.

Teman kedua hidupnya selalu berkecukupan. Rumahnya besar. Ke mana-mana selalu mengendarai mobil pribadi dengan plat nomor pesanan mudah diingat. Namun, bukan sekali ini dia ingin meminjam uang pada saya. Sudah berkali-kali dan sepertinya tidak pernah saya iyakan. Karena saya tidak habis pikir, ke mana semua uang yang dimilikinya? Dan, kalaupun saya pinjamkan, apakah dia tidak malu saat membaca kata “iya” di telepon genggamnya yang biasanya selalu keluaran terbaru itu? Dia miskin atau kaya sih?

Jadi begitulan, saya tidak percaya orang kaya itu ada. Yang ada hanya orang yang bisa mengatur pengeluaran dan pemasukan mereka agar tetap seimbang; agar tidak menyusahkan orang lain; agar stres tidak datang setiap akhir bulan.

Itulah mengapa saya sering sebal, untuk tidak mengatakan tersinggung, kalau ada yang menilai saya banyak uang karena gaji saya besar. Besar itu relatif. Kalau dibandingkan teman saya yang kedua, gaji saya tidak seberapa. Kalau dibandingkan teman pertama memang jauh lebih besar.

Saya tidak kaya karena sebelum menikah saya masih sering kekurangan uang dan terpaksa meminta tambahan dari orangtua. Gaji saya hampir selalu habis sebelum akhir bulan. Motor, kamera, laptop, dulu itu juga mereka yang membelikan. Kedengarannya orangtua saya kaya ya? Coba sekali-kali main ke rumah mereka. Kalau melihat lantai semen tanpa keramik, kursi kayu, halaman tanah tanpa rumput, apalagi taman… pasti kata kaya tidak akan terlintas di benak Anda saat melihat rumah mereka. Mereka tidak kaya, tapi selalu punya cukup uang kalau ketiga anak mereka membutuhkan.

Sekarang keuangan saya jauh lebih baik. Saya punya tabungan, meskipun tidak banyak. Saya juga sudah melakukan investasi kecil-kecilan. Setiap akhir bulan, baru belakangan ini, saya sudah tidak stres melihat saldo tabungan. Baru belakangan ini ya… sebelumnya sih masih stres. Ya kadang harus pinjam atau mencicil sesuatu, tapi tidak dalam jumlah besar dan bukan untuk kondisi darurat.

Selain tuduhan kalau saya kaya dan banyak uang, ada satu lagi tuduhan yang akan membuat saya marah: boros. Saya paling sebal dituduh boros. Apalagi yang menuduh tahu benar kalau saya masih menabung sedikit-sedikit, kalau saya sudah sangat mengurangi beli baju, pakaian dalam, sepatu, tas, dsb.

Saya itu bekerja, saya punya penghasilan sendiri, saya punya pemasukan, dan saya sudah bisa mengontrol pengeluaran agar tetap seimbang. Mau marah kan, kalau sudah berusaha mati-matian buat mengatur uang tapi tetap dibilang boros.

Saya tidak kaya, tapi saya juga tidak mau hidup seperti orang miskin. Hidup yang cukup saja boleh kan? Toh saya bekerja keras untuk membuat pendapatan saya cukup. Kalau kurang, ya pemasukan ditingkatkan dong… Tidak harus selalu pengeluaran yang direm kan? Saya masih punya banyak kemampuan kok untuk mencari celah agar pemasukan bertambah. Boleh dong?

Jangan anggap saya kaya, tapi jangan menyuruh saya jadi orang miskin juga. Kaya dan miskin itu tidak ada, bagi saya.

17.3.13

Makan Cerdas



Makan sehat atau makan cerdas, mana yang lebih enak dilakukan? Kesibukan, tuntutan sosial, dan keterbatasan fasilitas kadang membuat kita sulit makan sehat. Kalau begitu pilihannya adalah makan cerdas.

  1. Usahakan 2x makan sehat atau masakan rumah. Sekitar 50% makanan yang masuk sebaiknya sehat.
  2. Jangan diet kalau tidak yakin maunya apa: turun berat atau menghindari penyakit? Tiap diet beda fungsinya.
  3. Keputusan makan atau tidak ditentukan oleh perut, bukan mata atau otak.
  4. Dengarkan perut, kalau lapar makan, kalau tidak lapar jangan makan.
  5. Jangan mendengarkan mata yang bilang makanan itu enak, atau piring belum bersih, kalau sudah kenyang ya berenti.
  6. Jangan mendengarkan otak yang bilang jangan makan karena kemarin sudah makan banyak, kalau lapar ya makan.
  7. Asah kemampuan mengenali lapar perut. Kalau mendengarkan perut, berat badan lebih mudah dikontrol.
  8. Makanan bukan hadiah, makanan adalah obat lapar. Bukan pula obat kedinginan, kepanasan, atau obat stres.

(hasil rajin nguping wawancara media dengan si bos yang kemudian jadi bahan ngetwit di @shapeindo)

14.3.13

Kenapa Binge Eating dan Bagaimana Mengatasinya?




Binge Eating Disorder atau BED umum menyerang perempuan dan laki-laki di usia produktif. Efeknya pun cukup fatal untuk kesehatan karena membuat kita sulit mengontrol agar berat badan tidak terus naik. Ancaman penyakit akibat obesitas pun terus mengincar.

Bagaimana sebenarnya seseorang bisa menderita BED? Apakah karena gangguan di otak atau karena masalah psikis? Apakah faktor sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan juga memengaruhi seseorang menjadi BED? Tara de Thouars, BA, M.Psi, Psikolog dari klinik lightHOUSE, Jakarta menjelaskan.

BED menurut Psikolog Tara, bisa dikarenakan gangguan otak dan psikis. “Kedua hal tersebut memegang peran penting. Akan tetapi faktor psikis akan memperparah ataupun memicu terjadinya BED,” ujarnya. Ia mencontohkan faktor psikologis antara lain akibat adanya karakter impulsif, kontrol diri yang rendah, obsesif terhadap makanan dan penampilan, serta rentan akan stres.

Faktor sosial budaya yang memengaruhi BED antara lain: Citra tubuh dan penampilan yang sangat dipengaruhi oleh media.  Tubuh yang sempurna adalah yang langsing dan kurus. Pengaruh lingkungan terutama keluarga juga memegang peranan penting yang bisa membentuk persepsi seseorang terhadap makan maupun terhadap tubuh. “Bila ajaran yang diberikan dari keluarga cenderung tidak tepat mengenai makan dan tubuh maka akan dapt mendorong seseorang ke arah BED,” Tara menjelaskan.

Selain itu ada pula pengaruh lingkungan sosial, seperti ajakan untuk makan, godaan situasi yang sulit untuk ditolak, budaya makan sosial. Seperti pesta ulang tahun, meeting di luar kantor, wisata kuliner, atau kumpul-kumpul dengan teman yang harus selalu disertai makan enak. “Pengaruh sosial dan tuntutan citra tubuh ideal inilah yang dapat menciptakan konflik antara makan dengan menjaga bentuk tubuh,” ujar Tara.

Ada pula faktor ekonomi. “Ekonomi yang lebih matang dan memadahi banyak mendukung terjadinya BED. Karena makanan dianggap menjadi suatu pelarian dan tidak memiliki permasalahan dalam faktor ekonomi untuk memenuhinya,” kata Tara.

"Program penurunan berat badan dengan terapi tingkah laku akan sangat membantu dalam menurunkan berat badan dan mengontrol keinginan makan yang berlebihan. Depresi juga berkaitan erat dengan gangguan makan ini, oleh sebab itu psikoterapi dan antidepresan juga dapat membantu mengatasi gangguan makan ini," ujar Psikolog Tara. Ia menambahkan, mengenali tanda-tanda dan gejala gangguan makan adalah langkah pertama untuk mengtasinya.

Berikut tip praktis untuk mencegah seseorang menjadi BED  ataupun gangguan makan lainnya:

  1. Mencoba untuk mengatur makan dengan benar, sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan untuk menghindari konflik dalam diri terhadap makanan ataupun efek sesudahnya seperti perasaan bersalah, penyesalan dll.
  2. Memperbaiki pola berpikir dan persepsi yang terlalu obsesif terhadap makanan maupun bentuk tubuh.
  3. Alihkan fokus kegiatan sehari-hari dari makanan dan bentuk tubuh. Perbanyaklah kegiatan yang bemanfaat dan berguna untuk diri sendiri.
  4. Bagi yang memiliki karakteristik resiko terkena gangguan makan, harus meningkatkan kesadaran mengenai kemungkinan mengidap gangguan makan. Mencoba untuk lebih waspada terhadap karakterikstik pribadi, dan faktor-faktor lain yang berperan, seperti faktor lingkungan, dll.
  5. Cepatlah untuk mencari bantuan profesional bila mencurigai diri sendiri atau orang terdekat  memiliki gangguan makan, agar tidak berkepanjangan.
  6. Bila sedang stres, konflik ataupun memiliki emosi negatif, jangan jadikan makan sebagai pelarian. Karena tindakan ini tidak akan menyelesaikan masalah justru akan menambah masalah baru. Carilah metode penanggulangan stres yang lebih sehat, positif dan bermanfaat untuk diri sendiri, seperti relaksasi, penyaluran kegiatan hobi, dll.
  7. Harga diri baiknya tidak hanya dipandang melalui bentuk badan maupun penampilan, tapi melalui hal-hal lain yang lebih luas, seperti prestasi dan kepribadian, sehingga tidak akan bergantung sepenuhnya pada citra tubuh.


Sebagai catatan akhir dari Psikolog Tara, “Gangguan makan dapat disembuhkan dengan tindakan yang tepat dan dukungan dari orang-orang terdekat.” Selamat memperbaiki hubungan dengan makanan! 


(dibuat untuk website kantor)

Apakah Anda Mengalami Binge Eating Disorder?





Apakah Anda tidak mampu berhenti makan? Apakah Anda berdiet dan sering gagal lalu diikuti rasa bersalah yang berlebihan? Apakah porsi makan Anda sangat berlebihan? Apakah porsi makan berlebihan itu membuat Anda malu dan sering makan diam-diam saat tidak ada orang? Apakah Anda sering kekeyangan dan tidak bisa merasakan lapar?

Jika banyak jawaban iya dari pertanyaan di atas, bisa jadi Anda terkena Binge Eating Disorder atau BED. Orang dengan gangguan BED mengalami beberapa episode makan berlebih yang cukup sering. Seperti orang dengan Bulimia, pada episode ini mereka akan kehilangan kontrol diri, lalu menyesal dan malu setelahnya. “Perilaku ini menjadi lingkaran setan karena semakin mereka menyesali episode binge, semakin banyak pula makanan yang dikonsumsi di episode berikutnya. Karena orang dengan binge eating disorder tidak purge, puasa, atau berolahraga setelah makan berlebihan, mereka cenderung kelebihan berat badan atau obesitas," ujar Tara de Thouars, BA, M.Psi, Psikolog dari klinik lightHOUSE.

Baru-baru ini PT Shape UP Indonesia mengadakan penelitian kepada 100 pasien peduli berat badan di klinik lightHOUSE, Jakarta pada tahun 2013. Penelitian yang dilakukan Psikolog Tara ini menemukan prevalensi BED sedang sebanyak 64%, parah 6%, dan 30% mengalami sedikit gangguan atau tidak sama sekali. "Sementara untuk penderita Bulimia/Anorexia sebanyak 32%," ujar Psikolog Tara.

Psikolog Tara menjelaskan, di Amerika penderita Bulimia dan Aorexia memang lebih banyak. Itulah kenapa dua gangguan makan ini masuk dalam kategori diagnosa eating disorder dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition (DSM-IV). Namun, sejak Desember 2013 dalam DSM V Binge Eating Disorder sudah masuk dalam eating disorders specified dan bukan lagi dalam jenis eating disorders not otherwise specified (EDNOS).

Menurut Psikolog Tara, yang dimaksud dengan specified adalah BED pada DSM 5 sudah termasuk kepada kategori Eating Disorder spesifik dengan gejala tersendiri dan terpisah dari gangguan makan ataupun gangguan kejiwaan lain. “Sebelumnya pada DSM 4 BED masih masuk kedalam EDNOS, karena masih dianggap rancu dengan gangguan-gangguan lainnya oleh para ahli jiwa. Tetapi mulai DSM 5, BED telah menjadi gangguan yang spesifik dan khusus sehingga bisa mendapatkan treatment terpisah daripada gangguan-gangguan lain,” ia menerangkan.


(dibuat untuk website kantor)

Pria dan Binge Eating Disorder





Tidak seperti gangguan makan Anorexia dan Bulimia, Binge Eating Disorder (BED) umum ditemukan pada laki-laki dan perempuan. Orang dewasa juga cenderung lebih banyak mengalami gangguan makan ini dibandingkan dengan anak muda atau remaja. Mengapa demikian, Tara de Thouars, BA, M.Psi, Psikolog dari klinik lightHOUSE memberikan penjelasan menyeluruh tentang gangguan makan BED ini.

Seiring perkembangan zaman, menurut Tara, tidak hanya  kaum perempuan saja yang peduli dengan berat badan dan juga penampilan. "Laki-laki belakangan mulai memiliki kepedulian terhadap tubuh. Media seperti iklan, film, dll. adalah salah satu yang mendukung perubahan ini. Karena tingkat kepedulian perempuan dan laki-laki sama-sama besar terhadap tubuh dan penampilan, maka persentase laki-laki dan perempuan semakin meningkat terkait dengan BED," ujar Tara.

Yang membedakan dari Anorexia dan Bulimia yang cenderung lebih banyak dialami oleh kaum perempuan menurut Tara, adalah tuntutan sosial pada pria untuk menjadi kurus dan langsing tidak sekuat pada perempuan. “Lingkungan terbiasa mendidik bahwa perempuan yang sempurna adalah yang langsing dan cantik, tetapi tidak pada pria. Sehingga dorongan BED lebih banyak datang dari diri sendiri ketimbang lingkungan, sedangkan untuk perempuan dorongan Eating Disorder muncul tidak hanya dari dalam diri sendiri namun juga dari lingkungan. Karenanya pria yang mengalami gangguan makan lebih banyak jatuh pada BED,” Tara menjelaskan.

Pembeda lain BED dengan Anorexia dan Bulimia adalah dalam hal usia. Jika Anorexia dan Bulimia banyak dialami remaja, sebaliknya BED umum ditemuka pada dewasa. “Pada saat dewasa, karakter, kebiasaan dan pola perilaku termasuk terhadap makan sudah terbentuk dengan sempurna ketimbang pada masa remaja. Sehingga gangguan BED lebih banyak dan lebih mudah untuk didiagnosa pada saat dewasa,” ujar Tara.

Ia menambahkan, pada masa remaja, karakter dan perilaku masih banyak berubah dan masih mencari nilai-nilai yang terbaik untuk diri sendiri, sedangkan pada saat dewasa nilai yang terbentuk pada diri sendiri sudah ajeg. Demikian pula dengan kebiasaan yang terbentuk pun sudah semakin menguat. “Selain itu, lebih banyak orang dewasa yang mengeluhkan masalah BED-nya kepada para ahli ketimbang remaja, karena remaja belum memiliki pemahaman yang kuat mengenai gangguan yang dideritanya. Akan tetapi kecenderungan BED sebenarnya sudah dapat diprediksi sejak masa remaja,” ia menerangkan.

Menurut Tara, tidak ada batasan usia tertentu yang lebih banyak mengalami BED, akan tetapi keenderungan BED sudah dapat diihat dari masa remaja dan jika tidak ditindak secara langsung atau disadari permasalahannya maka akan terbentuk semakin kuat pada saat dewasa. Ia mengingatkan, perlu diperhatikan juga bahwa kebanyakan BED muncul karena adanya dorongan emosi/stres yang memicu orang melakukan makan tanpa terkontrol. Usia-usia rentan stres  biasanya ditemui pada usia produktif yaitu memasuki dewasa sekitar 20-an ke atas. Masa-masa mereka kuliah, mulai bekerja, atau berumah tangga.

BED merupakan kondisi gangguan makan dengan gejala makan berlebihan yang ekstrim dan hilangnya kendali diri saat makan. Namun, bukan berarti penderita gangguan ini akan makan banyak setiap waktu. Seperti orang dengan Bulimia, pada BED ada episode saat penderita kehilangan kontrol diri dan makan banyak, lalu menyesal dan malu setelahnya. Perilaku ini menjadi lingkaran setan karena semakin mereka menyesali episode binge, semakin banyak pula makanan yang dikonsumsi pada episode berikutnya. Karena orang dengan BED tidak mengeluarkan kalori dari tubuh atau purge, dengan memutahkan makanan, puasa, atau olahraga setelah makan berlebihan, mereka cenderung kelebihan berat badan atau obesitas. Karena binge eating mengakibatkan obesitas, efek samping terhadap kesehatan sangat serius.


(dibuat untuk website kantor)

10.3.13

sekali lagi tentang perkosaan



Hari ini koran nasional yang katanya terbesar di Indonesia menyoroti kasus kekerasan sebagai tajuk utama di halaman pertama. Otomatis saat membicarakan kasus kekerasan, perkosaan termasuk di dalamnya. Tadinya saya senang melihat pilihan tajuk utama itu, tapi tidak lama senangnya langsung berubah jadi sebal.

Sebal karena ternyata koran terbesar tersebut masih belum menunjukkan pemahaman yang menyeluruh tentang cara menulis berita tentang kekerasan seksual yang berpihak pada korban. Padahal, sebagai berita utama di halaman pertama, seharusnya berita itu sudah melewati banyak mata yang dimiliki oleh otak-otak yang berpendidikan dan berpengalaman tidak sedikit di dunia media.

Dunia media yang, semakin saya yakini, masih dimonopoli oleh manusia patriarki dengan pemahaman minim akan konsep kesetaraan gender.

Oke, saya bukan lagi wartawan. Saya juga hanya punya pengalaman sembilan tahun bekerja sebagai wartawan, penulis, dan editor di industri media. Mungkin pengalaman-pengalaman tersebut masih dinilai kurang oleh sebagian pihak. Namun, itu semua tidak akan mengurangi keinginan saya untuk tetap berani menjadi sok tahu dan mengatakan apa yang ingin saya tulis berikut.

Hal-hal yang harus dihindari saat menulis tentang kekerasan dan pelecehan seksual:

1. Penulisan nama lengkap korban. Bahkan inisial pun biasanya dihindari. Sebaiknya tulis saja nama alias. Mungkin saja boleh ditulis namanya jika korban sudah meninggal dunia sebagai bentuk penghormatan, tapi itu pun harus persetujuan keluarga korban. Kalau hanya demi gengsi wartawan dan media, atau hanya atas nama asas kelengkapan berita, buat apa? Apalagi kalau kita tidak bisa bertanggung jawab atas efek yang ditimbulkan berita itu di kelanjutan hari? Berpikirlah agak jauh sedikit. Coba banyangkan bagaimana jika anak si korban kelak mencari nama orangtuanya di mesin pencari? Apa rasanya membaca berita semacam itu tentang ibunya? Dengan laju informasi semacam ini, sebagai penyedia berita, Anda dituntut lebih bijak.

2. Deskripsi tindak kekerasan atau pelecehan seksual. Seks selalu menjadi daya tarik jika dideskripsikan menditail. Manusia memang demikian adanya. Kita boleh menyangkal dan mengatakan jijik membaca berita yang mendeskripsinya secara rinci bagaimana pelaku kekerasan dan pelecehan seksual beraksi. Namun pada kenyataannya, berita demikian mendapat hit yang lebih banyak, koran kuning yang menu utamanya berita kriminal pun laku dijual. Deskripsi yang ditail dan panjang tentang pelecehan atau kekerasan seksual hanya menguntungkan media, pecandu seks, dan sama sekali tidak menguntungkan korban. Deskripsi menditail hanya akan menimbulkan trauma jika korban tidak sengaja membaca berita itu. Keluarga, pasangan korban juga akan terganggu dengan pemberitaan semacam itu. Belum lagi jika di kemudian hari orang yang membaca berita itu akan menghindari si korban, tidak jadi merekrutnya sebagai karyawan, atau melarang anaknya menikahi si korban.

3. Penulisan penyebab seperti: pakaian korban yang pendek atau terbuka, dsb.Penyebab tindakan pelecahan atau kekerasan seksual semacam ini pasti datang dari pelaku yang tidak ingin disalahkan atau polisi yang ingin mencari gampangnya saat mengisi berita acara pemeriksaan. Coba tanya ke korban (kalau masih bisa), kenapa dirinya diperlakukan semacam itu, pasti jawabannya tidak tahu. Karena memang, dia tidak salah. Mau si korban pakai baju tertutup, mau dia setia dan tidak selingkuh, mau dia menurut dan mengikuti semua perintah, kalau si pelaku sudah lepas kontrol dan situasi memungkinkan, tindakan kriminal itu akan tetap terjadi kok. Yang salah itu pelakunya! Jangan memaksakan korban untuk menanggung tanggung jawab dari tidakan kriminal itu! Media harusnya bukan corong yang menyuarakan kata-kata si pelaku. Bukan pula sekedar memindahkan berita acara pemeriksaan ke koran, atau mempopulerkan kosa kata polisi yang lebih sering ngawur. Wartawan itu harusnya lebih cerdas, lebih peka, dan lebih netral bukan?

Hanya tiga yang harus dihindari. Semoga tidak sulit untuk dilakukan ya.

NB: si koran terbesar itu melakukan kesalahan nomor tiga dengan mengatakan penyebab pelecehan seksual karena si korban mengenakan celana pendek.