30.1.13

hati



mari kita bicara hati.
di sini.
di hadapan secangkir kopi pekat,
tanpa gula.

kau sengaja pesan kopi itu.
katamu sajian pahit ini
untuk menyangatkan ajakan manis
yang kutawarkan.

bicara hati senja ini
berujung pada manisnya sebentuk cincin
di atas meja,
di samping kopi hitam,
pahit.



28.1.13

Apa yang Akan Terjadi Jika "Menderita" Sebelum Menikah?



Saya menulis ini karena menampar orang bukanlah tindakan yang menyenangkan. Saya serius ingin menampar beberapa teman saya yang belum menikah dan merasa tidak bahagian karenanya. Yang akan saya tulis bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Mungkin sama menyebalkan dengan tamparan. Jadi, kalau merasa mulai tersinggung, lebih baik berhenti membacanya.

Apa sih sebenarnya yang membuat seseorang menderita dan mengutuki hidupnya karena belum menikah? Saya serius bertanya karena saya tidak pernah merasa demikian saat belum menikah. Mendengar mantan pacar menikah tidak membuat saya langsung ingin buru-buru menikah juga. Justru saya malah mengatakan dengan lantang, "Saya tidak akan menikah!" Satu hal yang saya inginkan, saat tahu saya diputuskan sebagai pacar karena dia akan menikahi perempuan lain, adalah mencari pria lain. Pria yang bisa diajak kencan, menemani saya berkeliaran, menonton ini itu. Bukan untuk pacaran serius, apalagi dijadikan suami.

Saat melihat teman-teman saya menikah dan punya anak, saya juga tidak terilhami untuk cepat-cepat mempersiapkan pelaminan. Umur pun bukan sesuatu yang membuat saya mempertimbangkan pernikahan atau punya anak.

Oke, saya memang pernah punya keinginan untuk menikah dan punya anak sebelum 25 tahun. Itu dulu, saat saya belum kuliah. Lalu banyak hal yang saya baca, saya lihat, saya alami, yang membuat pandangan saya terhadap pernikahan berubah. Meskipun saya sudah menikahi pria baik dan memiliki seorang anak yang lucu, hingga detik ini saya masih percaya sepenuh hati: Pernikahan tidak akan membuat seorang otomatis menjadi bahagia.

Saya akhirnya memang menikah. Keputusan itu saya ambil bukan dengan pertimbangan usia, tren di kalangan teman, dan bukan karena saya mulai kesepian. Saya memilih menikah karena menghormati kepercayaan pasangan saya akan institusi bernama pernikahan. Namun, kepercayaan saya akan institusi pernikahan hingga saat ini masih sama.

Teman-teman saya tercinta yang belum menikah, mohon meleyapkan semua dongeng yang berhenti saat Sang Putri menikah dengan Pangeran Tampan dengan kata-kata "Akhirnya merekan hidup bahagian selamanya." 

Terus terang, bahagia akan lebih sulit diwujudkan saat seseorang sudah menikah dan punya anak. Saya mengatakan ini bukan karena pernikahan saya tidak bahagia. Bahagia yang saya rasakan masih sama seperti sebelum menikah, seperti sebelum bertemu pasangan saya saat ini. Kadar bahagian saya memang naik turun, tapi secara garis besar masih sama. Saya berusaha membuatnya untuk tetap sama. Karena bagi saya hidup itu adalah perjuangan untuk menjadi bahagia.

Nah, dalah hal perjuangan itu lah yang membedakan sebelum dan sesudah menikah. Sebelum menikah, kalau tekanan pekerjaan sudah tidak bisa ditoleransi saya bisa melarikan diri, berlibur. Entah berdua, entah beramai-ramai, semua terserah saya. Setelah menikah saya langsung hamil dan punya anak, jadi hingga hari ini saya belum bisa merasakan berlibur sendiri atau bersama teman-teman. Berlibur berdua hanya satu kali, saat bulan madu.

Sekali lagi, bukannya berlibur bersama anak dan suami tidak menyenangkan ya... Tapi ya itu, semua bukan lagi terserah saya. Usaha untuk membuat liburan jadi menyenangkan juga jadi ekstra. Ekstra tenaga untuk mengendong anak sepanjang Malioboro, misalnya. Ekstra sabar karena yang akan mengeluh kalau ada yang tidak nyaman sepanjang perjalanan bukan satu tapi dua orang, atau lebih kalau liburan berbondong-bondong dengan keluarga besar. Dan ekstra ekstra lainnya.

Itu hanya masalah berlibur, dan hidup bukan liburan saja bukan?

Nah, kalau sebegitu besarnya perjuangan yang harus dilakukan untuk bisa bahagia setelah menikah, bagaimana dengan orang-orang yang sebelum menikah saja sudah "menderita" hidupnya? Beneran deh, menderitanya di mana sih? Kesepian? Boleh percaya, boleh tidak, setelah menikah Anda akan merindukan malam-malam sendirian di kamar, bisa menonton apa saja, membaca dengan tenang, luluran, menyisir rambut sampai tangan pegal, atau mencoba makeup terbaru... 

Sekarang saya masih bisa sih sendirian di kamar, sibuk sendiri, dan tidak mengurusi dua laki-laki di rumah, tapi kejadiannya semacam itu seperti bulan purnama. Paling sering ya sebulan sekali. Ini pilihan saya. Saya yang memilih hidup seperti ini. Untuk menjadi istri, untuk menjadi ibu.

Mungkin di sana letak "penderitaan" orang-orang yang belum menikah. Mereka merasa bukan pilihannya hingga akhirnya masih "sendiri" di tahapan hidup yang kata orang harusnya sudah menikah dan punya anak. Itu kan kata orang! Apa kata diri Anda sendiri? Kenapa hingga kini Anda masih belum punya pacar? Benar karena tidak ada yang mau? Atau karena Anda memasang tembok yang tinggi, takut ada yang masuk, mencuri hati, lalu menyakitinya? Kenapa Anda tidak menikahi pacar Anda sekarang, atau pacar pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima? Yakin karena kondisi dan situasi yang akhirnya membuat Anda putus? Bukan karena jauh di dalam diri Anda sudah tahu kalau memang tidak cocok? Tidak cukup pantas untuk diperjuangkan?

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak mau menikah tapi terpaksa harus menikah? Bahagia pasti lebih jauh lagi dari mereka.

Hidup itu pilihan dan pilihannya bukan menikah atau tidak menikah. Pilihannya mau bahagia atau tidak? Itu saja!

PERUT: Perisai Kita dari Kuman





Pernah keracunan makanan? Inilah tanda kalau perut kita merupakan organ tubuh yang tidak bisa berkompromi. Jika mikroba jahat menumpang makanan yang masuk ke mulut, perut akan segera mungkin mengirimnya kembali ke luar melalui jalan keluar yang paling dekat. Bagian tubuh yang mengindentifikasikannya pertama kali adalah pasukan pengawal, yaitu jutaan sistem sel imunitas yang yang tingal di dinding usus.

Apakah fakta tentang perut yang memiliki peranan besar dalam sistem imun tubuh mengejutkan? Tidak bila kita melihat sistem imunitas tubuh sebagai sebuah proses seleksi: mana bahan pembentuk tubuh kita dan mana yang bukan. Kita setiap hari memasukan berkilo-kolo bahan asing, makanan harian kita, ke dalam perut. Sistem imunlah yang akan memutuskan apakah “benda asing” itu boleh masuk atau tidak. Jadi masuk akal bukan kalau markas besar sistem imun ada di tempat masuknya makanan?

Sistem imun nan ampuh ini mulai berkembang di hari pertama kita lahir. Saluran cerna bayi yang baru lahir terbebas dari kuman. Namun, sesaat setelah lahir bakteri pionir mulai membuat kolonialisasi. Pada tahun-tahun awal kehidupan, setiap perut manusia mengembangkan keluarga berbagai jenis bakteri unik yang ditentukan sebagain oleh genetik, sebagain oleh makanan yang disantap, kebersihan tubuh, obat yang dikonsumsi, dan bakteri yang berkoloni di sekitar kita. Kemungkinan fungsi utama bakteri tersebut adalah untuk menstimulasi atau melatih sistem imunitas tubuh, dan kehadirannya juga dapat mengusir mahluk lain yang lebih berbahaya.

Ada campuran mikroba tertentu (perut kita mengandung ribuan spesies bakteri) yang dapat memberikan pengaruh besar pada kesehatan tubuh. Selain membuat kita lebih kuat dari serangan penyakit, keseimbangan atau kekurangan mikroba dalam perut, dapat menurunkan risiko obesitas, dan juga menurunkan risiko gangguan autoimun seperti rheumatoid arthritis, multiple sclerosis, dan psoriasis. Sudah jelas bahwa keluarga bakteri ini perlu kita jaga agar kita tidak mudah terjangkit penyakit seperti flu. Ikuti cara meningkatkan imunitas dengan menjaga bakteri perut kita ini.

1)      Hindari Detoks Berlebihan
“Pembersihan” usus juga dapat membersihkan bakteri baik dalam pencernaan dan membuat bakteri jahat berkembang labih banyak.

2)      Hindari Pemakaian Antibiotik
Obat ini bukan hanya membunuh patogen yang membuat kita terserang penyakit ringan, tapi juga dapat membunuh bakteri baik dalam usus.

3)      Konsumsi Makanan Berprobiotik
Pilihlah yogurt dan susu kedelai yang mengandung Lactobacillus dan Bi´Čüdobacteria. Selain melindungi tubuh dari flu dan demam, minuman yang memiliki kandungan bakteria yang baik bagi perut: Probiotik. Zat ini dapat meringankan diare yang disebabkan oleh infeksi atau antibiotik. 



*Bagian 3
(Pernah dimuat di majalah Prevention Indonesia Edisi Maret 2012)


PERUT: Otak Kedua Kita





Perut memiliki banyak keterlibatan erat dalam urusan emosi yang dalam: Kita mengandalkan suara hati (yang ada di bagian perut) untuk melakukan hal yang baik dan benar. Perut kita beraksi saat bertemu orang yang menyebalkan atau yang menyenangkan hati. Kita memegang perut saat memberi hormat atau akan menghadapi tantangan yang menguji kekuatan hati.

Bila dipikir-pikir, tidak mengherankan bukan kalau perut atau “otak kedua” kita sangat erat hubungannya dengan otak. Coba ingat kembali bagaimana rasa takut atau panik dapat mengaduk isi perut kita. Atau sebaliknya, saat keram atau ada rasa mual di perut, kita jadi teringat akan kerisauan dan hal yang mengganggu pikiran. Hal-hal yang sebenarnya tidak ingin kita ingat. Kenapa perut dan “otak pertama” kita memiliki jalinan komunikasi yang sangat kompak? Hal itu terjadi karena setiap jenis zat kimia terkecil yang diproduksi otak juga dihasilkan perut.

Bila demikian, tentunya zat kimia ini juga diproduksi bersama kedua “otak” itu: Hormon stres. Saat otak mendeteksi berbagai bentuk ancaman –baik itu pemecatan di kantor atau pertengkaran sengan pasangan—perut akan memancarkan hormon stres. Syaraf sensorik di sana akan bereaksi dengan menyesuaikan produksi asam lambung, dan mematikan selera makan, serta proses pencernaan. Efek dari reaksi ini akan berbahaya bila tubuh kita sebenarnya membutuhkan asupan nutrisi yang lebih banyak. Kita akan didera sakit perut atau kembung yang mengganggu.

Masalah pada perut adalah cara tubuh untuk mengatakan, “Perhatian, sepertinya ada yang mengganggu pikiran kita!” kata pakar nutrisi klinis Elizabeth Lipski, PhD, CCN, penulis Digestive Wellness and Digestive Wellness for Children. “Jika perut rasanya tidak enak, tugas saya adalah mencari tahu apa yang tidak seimbang dalam tubuh ini,” tambahnya. Menyelesaikan masalah di kantor atau mengatasi konflik batin membutuhkan strategi dan waktu yang lama, tapi kita dapat mengurangi gejala sakit perut yang menyertainya dengan teknik yang telah teruji ini.

1)      Bernafas Lewat Perut
Meditasi, yoga, menarik nafas panjang, dan latihan lain yang dapat membuat pikiran lebih relaks, dapat membuat tubuh tidak lagi rentan terhadap stres. Demikian yang dikatakan dalam sebuah penelitian. Menarik nafas dalam-dalam, dengan menggunakan otot diafragma (rasakan perut yang membesar dan mengempis di setiap tarikan dan embusan nafas), juga dapat menenangkan pikiran, melonggarkan ketegangan di otot perut, dan pencernaan pun kembali berjalan normal. Cara lain untuk menenangkan sistem syaraf tubuh yaitu dengan releksasi otot progresif. Caranya dengan mengencangkan dan melonggarkan kelompok kecil otot, mulai dari jari kaki lalu terus naik hingga otot wajah.

2)      Lakukan Olahraga Ringan
Olahraga ringan adalah musuh sejati stres. Setiap ada waktu luang, lakukanlah olahraga di luar ruangan. Suasana alam dapat menenangkan syaraf yang tegang. Mulai olahraga perlahan dan naikkan intensitas bertahap. Hanya dengan aktivitas ringan selama 20 menit kita mampu menenangkan syaraf, meningkatkan kinerja organ pencernaan, dan mengurangi perut kembung serta kandungan gas dalam perut.

Ingatlah, target utama kita bila ingin mengurangi sakit perut adalah dengan memahami sinyal intuisinya. Karena, jika ada yang mengganggu pikiran, perut yang akan bersuara paling keras.


*Bagian 2
(Pernah dimuat di majalah Prevention Indonesia Edisi Maret 2012) 

PERUT: Kilang Minyak bagi Tubuh





Setelah selesai menyantap makanan, mungkin kita tidak akan memikirkannya lagi. Namun setelah kita beranjak dari meja makan, pekerjaan yang berlangsung di perut kita baru saja dimulai. Proses ini akan berlangsung sembilan jam, atau satu hari, atau bisa juga hingga dua hari, baru akhirnya makanan yang kita santap sepenuhnya tercerna. Dalam proses ini, lambung dan usus halus akan menguraikan makanan menjadi molekul sehingga lapisan tipis di dinding usus halus dapat menyerapnya.



Setelah itu, nutrisi yang penting bagi tubuh yang akan digunakan sebagai sumber energi oleh seluruh sel kita, dapat masuk ke dalam aliran darah. Lalu, bagian ujung usus halus akan mendorong sisa air dalam makanan kita ke usus besar. Di sini, air akan diserap dan dialirkan ke pembuluh darah agar tubuh kita terhidrasi. Prosesnya tampak jelas, tapi tugas mencerna makanan ini bergantung pada harmonisasi kontraksi otot, sekresi zat kimia, dan sinyal elektrik di jalur pencernaan sepanjang sembilan meter itu. Banyak yang dapat kita lakukan untuk membantu proses panjang ini.



1)      Ikuti Ritmenya

Makan terburu-buru tidak cocok dengan tempo kerja perut yang merayap. Nikmati makanan. Manfaatkan koneksi ajaib antara pikiran dan tubuh kita. Rangsangan aroma dan bentuk makanan yang ada di hadapan kita dapat membuat proses pencernaan mulai bekerja. Otak akan menangkap rasangan tersebut dan mengirimkan sinyal ke organ-organ pencernaan agar mulai memproduksi zat kimia yang membantu menghancurkan makanan. Kunyah makanan hingga lumat agar perut kita tidak perlu bekerja keras untuk menghancurkannya. Makan perlahan untuk mengurangi udara yang masuk ke perut sehingga membuat perut bergas, kembung, dan sakit.



2)      Rawat Penghuninya

Bakteri baik dalam perut memanfaatkan serat, karbohidrat yang tidak dapat dicerna, sebagai sumber utama makanan mereka. Jadi, banyak makan buah dan sayur, serta biji-bijian utuh, seperti oat, jelai, gandum utuh, dan popcorn. Serat juga dapat memperlancar jalannya makanan di dalam perut hingga ke pembuangan. Perempuan dewasa sebaiknya mengonsumsi lebih dari 20 gram serat per hari; pria setidaknya 30 gram. Namun sekali lagi, makanlah perlahan. Meningkatkan asupan serat terlalu cepat dapat menimbulkan kembung dan gas dalam perut.



3)      Hormati Pendapatnya

Setiap mesin, bahkan yang dibuat masal sekalipun, memiliki ciri khas masing-masing. Jika makanan tertentu membuat kita sakit perut, hindarilah. Oknum penyebab sakit perut: makanan asam, pedas, dan berlemak; minuman berkafein dan berkarbonasi; cokelat; dan bawang. Produsen gas ternama antara lain buncis, bawang bombai, dan sayur-mayur seperti  kembang kol, kubis, dan lobak (Sayuran ini kaya nutrisi yang penting bagi tubuh, jadi jangan menjauhinya, nikmatilah mereka dalam porsi kecil.) Makanan olahan rendah kalori dan yang mengandung pemanis buatan (terutama sorbitol) juga memproduksi gas dalam perut.



4)      Kurangin Bobotnya

Orang yang kelebihan berat badan, lebih rentan terserang sakit perut. Berapapun berat badan kita, berolahragalah secara teratur untuk meredakan stres pada perut. Dalam penelitian yang melibatkan 983 orang dalam program pengurangan berat badan dikatakan: Semakin banyak aktivitas fisik yang dilakukan tiap minggu, semakin berkurang pula gejala-gejalan sakit perut yang mereka derita. Targetkan setidaknya 20 menit aktivitas fisik moderat setiap hari.


*Bagian 1
(Pernah dimuat di majalah Prevention Indonesia Edisi Maret 2012)

20.1.13

Pahami Siklus Nutrisi



 

Ungkapan “you are what you eat” tidak menjawab semua masalah kesehatan, 
karena ternyata “you are what your mother ate” juga memiliki sumbangan besar 
bagi kenyamanan hari tua kita.
 

Gizi merupakan sebuah siklus. Bukan lagi apa yang kita makan, tapi apa yang ibu kita makan saat mengandung juga dapat memengaruhi kesehatan kita saat itu, kini, dan kelak di hari tua. Itulah mengapa ada orang yang terlahir dengan penyakit asma, obesitas, lebih rentan terkena serangan jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes.

Kehidupan berjalan dalam siklus yang dimulai dengan kehidupan dalam rahim. Pada tahapan ini pembentukan setiap sel tubuh kita bergantung pada kondisi nutrisi calon ibu sebelum hamil dan kondisi nutrisi ibu selama masa hamil. Kedua kondisi ini berpengaruh terhadap janin. "Berat bayi lahir rendah bukan hanya berdampak pada gangguan pertumbuhan, tapi juga pada kesehatannya saat ia dewasa," kata Dr. dr. Saptawati Bardosono, MSc. Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah yang lahir kurang dari 2,5 kg.

Dua dekade lalu, dokter asal Inggris David Barker menemukan hubungan yang janggal: Wilayah termiskin di England dan Wales ternyata merupakan daerah yang memiliki tingkat penyakit jantung tertinggi. Dikatakan janggal karena bukankah teori sebelumnya menyatakan kalau penyakit jantung berhubungan erat dengan gaya hidup mewah, serba enak, dan konsumsi makan yang berlebihan. Ia kemudian memutuskan untuk mengadakan penelitian dengan membandingkan tingkat kesehatan sekitar 15.000 orang dewasa dengan berat lahir masing-masing. Hasilnya ada hubungan antara BBLR –yang erat kaitannya dengan buruknya nutrisi prenatal—dengan penyakit jantung di usia paruh baya.

Hal yang sama dikatakan oleh dr. Titis Prawitasari, SpA(K). Ia percaya ada faktor lingkungan yang memengaruhi tercapai atau tidaknya potensi genetik yang ada pada seseorang sejak masih dalam kandungan. “Janin akan melakukan adaptasi terhadap setiap perubahan status nutrisi dan hormonal yang terjadi selama dalam kandungan. Ini berakibat pada perubahan struktur, metabolisme, dan fisiologi dari janin yang akan menjadi penyebab mendasar terjadinya kelainan pada masa dewasa,” ujarnya.

Dr. Titis menambahkan, BBLR dan bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan sewaktu dalam kandungan mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami resistensi insulin dan hipertansi pada masa dewasa. “Kita harus memberikan perhatian yang besar bagi kecukupan nutrisi yang mencukupi bagi ibu hingga si jabang bayi lahir sehingga dapat tumbuh dan berkembang optimal tanpa masalah kesehatan di kemudian hari,” dr. Titis menjelaskan.

Perbaikan siklus nutrisi tidak hanya dilakukan saat hamil. Jika ingin memberikan gizi yang baik bagi anak-anak kita, para pakar menyarankan agar perempuan menyiapkannya sejak masa akil balig. Mari, kita membentuk generasi penerus yang lebih sehat.


 

1) Masa Akil Balig>>Fakta: Berdasarkan sebuah penelitian, 15% ibu yang melahirkan tidak bisa memberikan ASI pada bayinya di enam bulan pertama. Demikian yang dikatakan dr. Luciana B Sutanto, MS. SpGK. Padahal, pemberian ASI eksklusif dapat mengurangi kemungkinan terjadinya obesitas pada usia anak dan remaja. “ASI yang terus diberikan setelah enam bulan juga berpengaruh terhadap angka kejadian obesitas dan komposisi lemak tubuh pada anak remaja,” dr. Titis menekankan.
>>Lakukan: Perawatan payudara tidak lagi cukup hanya dilakukan saat mulai hamil. Sejak pubertas sebaiknya anak perempuan sudah diajarkan cara perawatan payudara. “Payudara jangan dilihat dari sisi estetis saja. Kita harus mulai melihatnya sebagai aset yang harus dipelihara agar kelak dapat menjadi sumber nutrisi terbaik bagi anak yang lahir,” kata dr. Luciana.

2) Masa Persiapan Kehamilan>>Fakta: Seorang perempuan yang mengalami kurang gizi saat konsepsi akan sulit memperbaiki status gizinya selama masa kehamilan. Hal ini dikatakan oleh Dr. Saptawati. “Kehamilan membuat ibu memiliki kebutuhan nutrisi lebih banyak untuk memenuhi perkembangan janin. Bila berat badan ibu sebelum dan selama hamil tidak memadai, perkembangan janin tentunya akan terganggu,” ia menambahkan. Mikronutrisi yang paling penting bagi ibu hamil adalah zat besi dan asam folat. Kebutuhan hariannya 400 mcg untuk asam folat dan 16 mg untuk zat besi.
>>Lakukan: Bila berencana untuk hamil, penuhi kebutuhan harian zat besi dan asam folat. “Paling cepat kita baru tahu saat kehamilan mencapai usia dua minggu. Padahal tiga bulan pertama kehamilan adalah masa penting dalam perkembangan janin,” kata Dr. Saptawati. Ia menganjurkan agar perempuan yang ingin hamil atau baru menikah untuk mengonsumsi makanan yang kaya akan zat besi dan asam folat seperti kacang-kacangan, oatmeal, dan sayuran berwarna hijau tua.

3) Masa Kehamilan>>Fakta: Saat embrio tertanam dalam dinding rahim, perkembangannya akan menjadi dua jenis sel: Sel yang menjadi janin dan sel yang menjadi plasenta. “Pada ibu yang kurang gizi, lebih banyak sel yang menjadi plasenta dibanding yang menjadi janin,” kata Dr. Saptawati. Ia menambahkan, Janin yang memulai kehidupan dengan ukuran lebih kecil dari seharusnya menyebabkan terjadinya keterbatasan pertumbuhan. Hal ini dapat meningkatkan risiko BBLR. Sebaliknya, risiko obesitas anak yang lahir dari ibu yang kelebihan berat badan lebih tinggi dibandingkan dari ibu dengan berat badan normal. John Kral, profesor dari SUNY Downstate Medical Center, New York mengatakan metabolisme seseorang terbentuk sejak di dalam rahim.
>>Lakukan: Cukupi kebutuhan nutrisi dengan mengonsumsi makanan bergizi. Namun yang perlu diingat adalah tidak perlu berlebihan. “Ungkapan yang mengatakan ‘makan untuk dua orang’ itu tidak tepat. Makanlah sesuai kebutuhan harian dan perbanyak nutrisi yang dibutuhkan untuk perkembangan janin,” dr. Luciana. Prof. John Kral menambahkan, membantu perempuan menjaga berat badan ideal selama hamil merupakan harapan terbaik untuk mencegah obesitas sebelum terlanjur. Hal sama berlaku untuk mencegah diabetes. Dana Dabelea, kandidat profesor epidemiologi dari University of Colorado, Denver mengatakan, "Jika kita dapat mengontrol secara intensif gula darah perempuan yang menderita diabetes selama kehamilannya, jumlah anak yang di kemudian hari terkena diabetes dapat berkurang."

4) Masa Menyusui
>>Fakta: Kita membutuhkan 500 kalori ekstra dari kebutuhan kalori harian bila kita sedang menyusui. Bahkan, angka tersebut sebaiknya ditambah bila kita tergolong aktif, atau mengalami berat badan turun dengan cepat, atau menyusui lebih dari satu anak. Selain itu, dr. Titis, mengatakan periode kenaikan berat badan yang cepat (periode tumbuh kejar) merupakan hal yang biasa terjadi pada anak yang BBLR. “Kenaikan berat badan yang terlalu cepat dapat mengakibatkan obesitas saat anak mencapai usia dewasa,” ujarnya. Risiko ini dapat dikurangi dengan pemberian ASI eksklusif.
>>Lakukan: Mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dapat menjaga kesehatan tubuh kita saat tengah menyusui. “Kapasitas ASI pun dapat memenuhi kebutuhan bayi,” kata dr. Titis. Ia menyarankan agar kita mengonsumsi makanan yang bervariasi agar semua kebutuhan nutrisi terpenuhi. Perbanyak konsumsi lemak tak jenuh dari minyak zaitun, kacang-kacangan, dan ikan; karbohidrat dari gandum utuh, buah, dan sayur. Bila perlu tambahkan suplemen untuk memenuhi kebutuhan harian asam folat, kalsium, dan zat besi.

 

Satus Gizi Ibu Sebelum Hamil 
Pastikan kita memiliki gizi yang baik sebelum hamil agar pertumbuhan janin optimal dengan langkah-langkah berikut:

  • Pastikan indeks massa tubuh kita masuk kategori normal, tidak berlebih dan juga tidak kurang. Ini merupakan patokan awal yang dijadikan acuan kecukupan gizi seseorang. 
  •  Bila sulit menimbang badan, cukup gunakan meteran untuk mengukur lingkar lengan atas. Jika di atas 23 cm, berarti gizi kita cukup dan siap hamil.
  • Cek darah untuk memastikan kadar hemoglobin (Hb). Nilai normal Hb untuk wanita adalah 11,5 gr% - 16,5 gr%. Jika normal, berarti kandungan zat besi kita cukup.
  • Jaga agar tekanan darah dan kadar gula darah normal. Tekanan darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pre-eklamasi. Gula darah yang tinggi juga dapat membahayakan persalinan.
  • Asupan kalsium juga harus memadai. Cek adakah tanda-tanda kekurangan kalsium, yaitu rambut rontok dan gigi berlubang. 


(pernah dimuat dalam Majalah Prevention Indonesia edisi Januari 2012)