26.2.13

ibu-ibu yang kecanduan lapar

setelah kemarin posting tentang orang-orang dengan berbagai jenis gangguan makan, hari ini dilanjutkan dengan tema yang sama. masih tentang gangguan makan tapi kali ini penderitanya lebih spesifik: ibu-ibu.

penderita gangguan makan, terutama anorexia dan bulimia, mayoritas adalah remaja. gangguan ini pun biasanya dimulai saat usia remaja. namun, ternyata banyak juga yang masih mengalami gangguan makan saat dewasa. saat telah menjadi ibu dengan dua atau tiga anak. kondisi ini menjadi lebih berbahaya karena kebiasaan makan yang salah dapat menurun ke anak. belum lagi kondisi psikologis ibu dan pandangannya mengenai makanan atau citra tubuh seringkali membahayakan diri dan janinnya saat mengandung.

berikut adalah film dokumenter mengenai ibu-ibu rumahtangga yang tengah berjuang melawan gangguan makan. judulnya Desperately Hungry Housewives, produksi BBC tahun 2009.


berikut kutipan pengantar film dokumenter ini di BBC


Anorexia and bulimia were once more commonly associated with teenage girls but are now on the increase among older women. This film goes into the seemingly perfect world of four housewives who are struggling with the fallout from their eating disorders.

They may seem to have it all with their nice houses, perfect children and middle class lives, but behind the wisteria, they are having a constant battle with their food and eating.

Jane in her early fifties now has the bone density of a 92 year old; 36-year-old Zoe has turned to Cognitive Behavioural Therapy to reclaim her life from anorexia; bubbly Tracey is bulimic and spends her nights binging and vomiting in secret from her children; and young mum Georgia tries hard to lose her baby weight, but will her obsession with weight see her falling back into the anorexic danger zone?

satu dari 100 orang di Inggris menderita bulimia. dalam dokumenter ini ada empat orang perempuan dewasa yang menderita bulimia atau gangguan makan lain. mereka sendiri mengatakan, ibu dua orang anak harusnya tidak menderita anorexia karena banyak hal lain yang harus dipikirkan selain makanan. namun kenyataannya, mereka masih berjuang mangatasi gangguan makan masing-masing.


 Part 1




jane (54), ibu dari tiga orang anak.
menderita anorexia dan bulimia selama 30 tahun, dimulai saat dia menikah lalu suaminya didiagnosa menderita kanker. stres yang memicu gangguan makan yang dialaminya. 


I have beautiful house, beautiful family, every thing going for me, and yet I have eating disorder.
stres  yang dialami jane sudah lewat, tapi gangguan makannya tetap ada. dia berjuang mempertahankan berat badannya agar tidak merosot ke angka yang membahayakan jiwa. di lain sisi dia juga hanya bisa mengonsumsi makanan yang "aman" dan tidak memicu bulimianya kambuh. makanan dia kelompokkan menjadi makanan putih, abu-abu, dan hitam. makanan putih adalah comfort food. jangan bayangkan cokelat atau cake masuk dalam kategori ini. comfort food bagi jane adalah sayuran dan bubur. kabohidrat yang dapat dia konsumsi hanya bubur. roti, pasta, biskuit masuk dalam makanan hitam yang bila ia konsumsi akan menimbulkan rasa bersalah dan keinginan untuk memuntahkannya.


I'm feeling large. I keep telling myself I'm not but I'm still feeling large.
jane sangat merahasiakan gangguan makan yang dideritanya. suaminya bahkan bertahun-tahun tidak mengetahui kalau istrinya memuntahkan makanan. mereka tahu saat berat badan jane terus turun drastis. jane tahu anak-anaknya marah dengan kebiasaan ibunya itu. kemarahan mereka hanya membuat jane merasa lebih bersalah. kini jane berusaha mengontrol gangguan makan yang dideritanya dan tidak membiarkan hidupnya dikontrol anorexia atau bulimia.


Part 2






tracey (36), single mom dari dua orang anak.
empat tahun lalu, tracey tidak memiliki masalah dengan makanan. bulimia yang dideritanya berawal saat ibunya meninggal dunia dan tidak berapa lama pernikahannya berantakan.


The breakdown of my marriage was kind of the last store really. I thought the underlining problems already there from way back. I've been abused as a child, never deal with that or talk about those days just ignore it, moved on. My parents had not a very good marriage, they'd split up. I have a couple miscarriages that I never really addressed. I think that's how it's started, become a warped sense of control. 
tracey tinggal bersama dua orang anaknya. dia bekerja di bank dan sedang menyelesaikan kuliah hukum. ia binging (menyantap banyak sekali makanan tanpa bisa mengontrolnya) setiap 4-5 kali dalam seminggu. setelah itu biasanya dia memuntahkan makanan yang disantap. semua itu dilakukan saat anak-anaknya sudah tidur. ia memilih kamar mandi bawah yang tidak satu lantai dengan kamar anak-anak agar tidak ketahuan. periode binging bisa berlangsung hingga tengah malam. ia memakan sereal dan camilan yang ada. semakin banyak makanan yang masuk, semakin banyak waktu yang diperlukan untuk memuntahkannya. ia bisa terjaga hingga pukul dua dini hari.


I feel shame, terrible terrible shame. Because I fully grown women. I have two beautiful children. I have a job. I studying. I sensible person. So why do I do this when nobody's around?
bagi tracey, bukan tubuh kurus bak victoria beckham yang diinginkan.  
It never had anything to do with how I look. It's entirely about how I felt about myself. How I still feel about myself. Feeling of worthlessness.

Part 3


zoe (36), ibu dari dua orang anak.
sudah lima tahun zoe menderita anorexia, termasuk saat ia mengandung anak keduanya. tubuhnya tidak bertambah besar, berat badannya sama sekali tidak bertambah saat hamil.


I felt overwhelming guilt not to be able to eat properly. It would be so depressing because my gut very hungry and I'm lying there thinking I should get up and eat something but yet not being able to. Something just stopping me to put that food inside me. 
zoe sangat takut dengan kondisi janin dalam kandungannya. ia yakin anak itu akan lahir cacat atau bahkan tanpa nyawa. namun, ternyata anak keduanya lahir sehat. zoe-lah yang terus bertambah kurus sehingga dokternya langsung menyarankan agar dia mengikuti terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT). sudah dua tahun dia menjalani terapi ini dan dia masih berjuang menyembuhkan gangguan makannya.


for most of my life i felt happy when my weight is going down. right now i feel quite worry actually.
selain terapi perilaku kognitif, zoe juga membuat catatan apa saja yang dia makan setiap harinya sebagai langkah penyembuhan. ia kini telah berhasil makan tiga kali sehari plus dua kali camilan meskipun masih memiliki pikiran yang mengarah pada anorexia. pada akhir film, keberhasilan zoe digambarkan dengan eating out bersama teman-temannya. suatu hal sederhana yang tidak mungkin dapat dia lakukan saat masih memiliki gangguan makan.

Part 4


georgia (29), ibu dari tiga orang anak.
tujuh minggu setelah melahirkan anak ketiga, georgia sudah terobsesi untuk menurunkan berat badan. persamaan pada keempat ibu ini adalah keinginan menurunkan berat badan telah berhasil menghilangkan akal sehat mereka. keinginan yang menjadi semacam adiksi. georgia pernah menderita anorexia saat berusia 18 tahun. saking kurusnya, dia sampai harus masuk perawatan di rumah sakit jiwa. meskipun sudah sembuh, obsesinya pada berat badan dan diet terus berlangsung. setiap hari dia menimbang berat tubuhnya.


I know I shouldn't weight myself everyday. It's silly because sometimes I don't see change and that made me panic and difficult to eat for the day. But, that's what I do.  
anorexia yang dialami georgia berawal saat orangtuanya bercerai. ibunya kemudian mengajak anak-anaknya tinggal bersama pasangan barunya.


I felt like because my mom making the decision about where we live and who we live with, I felt like I didn't have any say in anything. And so that's probably why I resolved to this. Why I choose food I don't know. But it was my way and food are things that I could control. I could control what I put in my mouth. I could control what happen to my weight.
kontrol terhadap makanan yang dilakukan georgia membuatnya membatasi apa saya yang bisa masuk dalam mulutnya. saat terparah adalah ketika ia hanya makan satu apel sepanjang hari. apelnya harus spesifik dalam hal warna dan ukuran. ia akan mencari apel yang "sempurna" di berbagai toko. tidak ada makanan lain yang dimakan. ia juga berolahraga sekeras mungkin. inilah yang menyebabkan dia sampai harus dirawat.

niatan untuk sembuh berawal ketika ia bertemu dengan lelaki yang menjadi suaminya sekarang. keinginan memiliki anak membuatnya bersemangat untuk menaikan berat badan. agar siklus menstruasinya kembali. setelah berhasil hamil dan melahirkan anak yang sehat, sebulan kemudian anorexia georgia kembali kambuh.

kelahiran anak ketiga tidak membuat obsesi georgia pada berat badan berhenti. kontrol terhadap jenis makanan yang dapat dimakan juga masih berlangsung. georgia tidak pernah bisa makan cake. namun, ia ingin bisa makan kue ulang tahun anaknya. di akhir kisah, georgia berhasil menahlukan pikiran anorexianya dan menyantap sepotong kue.


Part 5

Part 6 

25.2.13

saat makanan berubah menjadi candu

bagaimana jika kita kecanduan makanan? seperti jenis adiksi lain, kecanduan makanan dapat menurunkan kualitas hidup seseorang, membuatnya terisolasi, dan memperburuk kondisi fisik maupun mental. inilah yang disebut dengan gangguan makan atau dalam bahasa yang lebih mendunia, eating disorder.

konon, saat seseorang menderita adiksi, termasuk adiksi makanan, perkembangan mentalnya akan berhenti. jika adiksi dimulai saat 13 tahun, penderita gangguan makan itu memiliki cara berpikir dan mentalitas anak remaja, meskipun sesungguhnya dia sudah berkepala tiga atau empat.

pernyataan tersebut terlihat jelas dalam serial dokumenter dalam lima episode yang ditayangkan di E! tahun 2010. judulnya What's Eating You.

serial dokumenter ini menampilkan berbagai jenis gangguan makan. mulai yang umum seperti bulimia adan anorexia, sampai yang ekstrim seperti pica. perempuan yang menderita pica di dokumenter ini punya gangguan makan kapur sebagai camilan. total ada 10 cerita dengan 10 orang penderita gangguan makan. mulai dari yang remaja hingga dewasa, yang perempuan dan laki-laki, yang super kurus sampai yang super gemuk. semua bisa terkena gangguan makan.

dan, semua gangguan makan yang dikisahkan pasti disertai dengan gangguan psikologis. hampir semua masalah ditangani dengan terapi psikologis, meskipun tetap ditambah dengan bantuan medis dan konsultasi gizi, tapi yang saya liat terapi yang paling berperan adalah psikologis. 
 



Episode #1 (part 1)



Episode #1 (part 2)

Episode #1 (part 3)

Episode #1 (part 4)



Episode #1 (part 5)

 
 Episode #2 (part 1)


Episode #2 (part 2)

 Episode #2 (part 3)

 Episode #2 (part 4)
 
Episode #2 (part 5)


Episode #3 (part 1)
  
Episode #3 (part 2)

Episode #3 (part 3)

Episode #3 (part 4)


Episode #3 (part 5)


Episode #4 (part 1)

Episode #4 (part 2)

Episode #4 (part 3)

Episode #4 (part 4)
  
Episode #4 (part 5)


Episode #5 (part 1)

Episode #5 (part 2)

Episode #5 (part 3)

Episode #5 (part 4)

Episode #5 (part 5)



kutipan yang paling membekas ada di episode dua, dari andrew, 23 tahun dari new york. laki-laki bulimia dengan kecenderungan masokis.


"People think you could just stop this cause it’s not like actual drugs like crack. But food is more deadly than you think. You can’t survive without food. So how do you get better when your drug you can’t eliminate totally?"





apa yang terjadi saat makanan berubah menjadi candu?  bagaimana cara menghentikan kecanduan kalau ke mana pun kita pergi bertemu dengan makanan? pun kita harus tetap makan bukan?

 

8.2.13

#puitwitku


--dalam usaha menjadi jokpin--





kala bulan bujang masih lajang, 
lipstiknya merah tebal. 
dia ingin pungguk menatap lekat-lekat 
senyum yang merekah lebar.





emak membekali gula saat kuberangakat ke pelaminan. 
taburkan saat manis habis dan kau jadi sepah, 
bisiknya terbata.





dalam setiap perjamuan, 
perut diangkat menjadi panglima. 
ia harus menggantikan otak yang lelah 
diserang kenyataan





kata mengaduh haduh, 
menggigil di luar benak, 
menunggu dibukanya pintu sajak





saat setiap ah dibalas dengan haduh, 
ada yang harus menghentikan gagah 
dan melepaskan pasrah





konon, di negeri haduh 
berkuasalah seorang raja 
yang tak mampu berkata-kata. 
dia hanya bisa prihatin...





5.2.13

#Teman



Malam ini hari istimewa. Ada gaun kuning cantik, khusus kubeli untuk menyambutnya. Manis. Begitu komentar Mas Ario saat melihat gaun itu. Tak sabar aku menunggu dia menjemput nanti malam.

Tak kuasa kumenahan bahagia. Jeng Roni di salon langganan sampai pangling. "Cantik deh kalau senyum terus." Jeng Roni tahu benar kisah lima tahunku dengan Mas Ario. Kisah yang membuatku jarang tersenyum. "Udah Say, laki bajingan gitu sih tinggalin aja," kata Jeng Roni bila mendengar kuberceriita sambil menangis.

Mas Ario memang bajingan. Dia beristri, anak dua, tapi sering bermalam di kamar kostku.

Dia bajingan yang mau mendengarkan semua keluhanku soal kantor, klien, ayah-ibu, dan tentang hidup. Bajingan cerdas itu dapat membuat laptop lapukku yang sering ngambek kembali bekerja dengan baik. Dia selalu mengikuti kasus korupsi terkini dan tahu tehnik membalikkan pancake lezat tanpa merusakknya! Bajingan tampan yang hingga kepala empat pun perutnya masih rata. Dan tenaganya...

Dia bajinganku yang mengaku tidak bahagian dengan hidupnya, yang merasa menemukan belahan jiwa saat bersamaku.

"Aku akan bercerai. Secepatnya." Mas Ario mengatakan itu, setahun yang lalu. Aku masih menunggu. Aku menunggu dengan penuh ragu. Benarkah dia telah memilihku?

Kalau benar, kenapa kami masih lebih sering menghabiskan waktu di kamar? Seperti bersembunyi dari dunia, kencan kami di luar hanya hitungan jari. Itu pun harus menunggu sepi. Dia yang sembunyi. Aku? Kenapa harus malu, kami saling cinta. Dia yang mendekatiku. Aku bangga bersamanya.

Itulah mengapa malam ini penting. Kami akan pergi kencan berdua. Ke luar! Bukan di restoran, bukan di bioskop, dan bukan di tempat sepi. Kami akan kondangan. Ajakan dia minggu lalu seperti sebuah pernyataan: "Aku serius sama kamu."

Ah, itu Mas Ario datang. "Yuk kita berangkat!" Dia diam, tersenyum dan berkata, "Cantik!"

Pesta itu meriah. Antrean mengular di tiap gubuk anekamakanan. Mas Ario berjalan di depanku. Kami berhenti. Ada temannya yang menyapa. Aku semakin gugup. Apa yang akan dikatakan temannya saat melihatku?

Apakah teman ini mengenal istri Mas Ario? Apa komentar dia dan mereka tentang kami, tentang saya? Toh Mas Ario mengajakku. Ini menunjukkan kalau kami serius. Kalau saya bukan sekedar selingkuhan tapi calon.

Mas Ario menoleh dengan pandangan dingin. Ia berkata pada temannya, "Kenalkan, ini Putri teman lama di kampus." Sepanjang malam kata teman terus terucap, menghantuiku. Ya, saya hanya teman bukan selingkuhan apalagi calon. 




(ditulis untuk #FFT (Flash Fiction Twitter) di @lembar_pena)

4.2.13

Marah dengan Aman



Marah bukan dikontrol (seperti tali kekang), tapi dikelola (seperti modal usaha).

Kemarahan merupakan emosi yang paling umum dialami manusia. Namun, emosi ini pula yang paling sulit kita pahami. Seperti yang dikatakan Toge Aprillianto, M.Psi, Dewan Penasehat Prevention dan penulis buku Saatnya Melatih Anakku Berpikir, kita sering salah mengerti tentang manajemen kemarahan.


>> FAKTA tentang MARAH
Apa dan bagaimana kemarahan itu? Psikolog Toge Aprillianto, M.Psi, memberikan beberapa fakta ini. 
  • Marah selalu berangkat dari rasa kecewa, karena harapan tidak sesuai kenyataan. Itulah kenapa pelajaran pertama dan utama menjadi manusia adalah "sanggup kecewa". Artinya, bukan menjadi tidak kecewa, tapi menjadi sanggup menghadapi situasi yang membuat kecewa dengan aman.
  • Marah itu bagian dari perasaan (emosi) yang adalah bagian dari kemanusiaan. Jadi, marah itu sah hukumnya, karena sifatnya yang manusiawi. Masalahnya, tidak semua orang bisa marah dengan aman. 
  • Marah itu energi. Memang tidak bisa dimusnahkan sehingga sebaiknya tidak ditahan supaya tidak menjadi semakin pekat. 
  • Cara mengelola kemarahan: Cari kegiatan yang dapat membuat kita senang, tanpa risiko, tanggung jawab, tuntutan, atau kewajiban. Secara awam, ini yang disebut dengan hobi. Bila kita sudah terlatih, kegiatan ini bisa menjadi reaksi refleks. Tiap gejolak marah muncul, langsung memicu hasrat untuk melakukan kegiatan menyenangkan alias hobi itu.

Kita sering berusaha mengontrol kemarahan seperti saat berkuda dan memegang tali kekang. Padahal menurut Toge, seharusnya marah itu dikelola seperti kita mengatur keuangan saat memulai sebuah usaha. “Anda sebaiknya berlatih melepaskan energi marah dengan aman,” ia menyarankan.

Banyak cara untuk melepaskan kemarahan tanpa merugikan orang lain. Berikut jenis-jenis marah dan situasi yang ditimbulkan, alasan kita melakukannya dan cara membalikkan situasi agar kemudian kita dapat marah dengan aman.


 

1) Gaya marah meledak-ledak: Ada banyak hal yang membuat kita marah. Kemarahan itu terus berkumpul. Sehingga saat sudah tidak bisa menampungnya, kita meledak hanya karena hal kecil yang sederhana.

Situasi #1 “Kalau sekali lagi kamu meninggalkan handuk basah di kamar, lebih baik kita pisah saja!"

Kenapa kita melakukannya? Jika tidak pernah diajarkan bagaimana menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan, kita akan terus menelannya hingga tidak bisa menelan lagi. Pada akhirnya kita akan meledak. Untuk beberapa orang, marah menjadi suatu adiksi untuk bisa menaikkan adrenalin dan melampiaskan emosi. Selain itu, dengan ledakan-ledakan kemarahan tadi, mereka sering mendapatkan apa yang diinginkan, tapi biasanya tidak bertahan lama.

Kerusakan yang ditimbulkan: Sesungguhnya sangat sulit bagi kita untuk bisa berempati dan marah pada waktu bersamaan. Jadi, saat ledakan itu datang, kita akan melakukan dan mengatakan hal-hal yang sangat kasar yang nantinya akan disesali.

Balikkan situasi dengan menunggu beberapa saat. "Penelitian menunjukkan respon neorologi kemarahan hanya berlangsung selama dua detik, kata Ronald Potter-Efron, Ph.D., pakar manajemen kemarahan di Eau Claire, Wisconsin, AS dan salah satu penulis buku Letting Go of Anger. Jika berlangsung lebih dari beberapa detik, kita harus berkomintmen ekstra untuk tetap marah. Lupakan komitmen itu dan hitung hingga 10, lalu lihat apakah ledakan kemarahan sudah lewat. Kita harus dapat memiliki kontrol akan emosi. Cukup dengan mengatakan, "Saya tidak suka kalau kamu selalu lupa meninggalkan handuk di kamar setelah memakainya." Ini lebih efektif dan aman dibandingkan kalimat di atas.



2) Gaya marah menyakiti diri sendiri: Kita selalu menemukan alasan untuk menyalahkan diri sendiri.

Situasi #2 "Dia tidak membantu karena salah saya. Saya istri yang tidak berbakti."

Kenapa kita melakukannya? Kita kehilangan rasa percaya diri lalu memutuskan untuk marah pada diri sendiri. Kita berpikir, lebih aman dan mudah untuk memarahi diri sendiri daripada orang lain.

Kerusakan yang ditimbulkan: Terus-menerus mengarahkan kemarahan pada diri sendiri dapat membuat kita kecewa berkelanjutan dan bahkan depresi.

Balikkan situasi dengan bertanya pada diri sendiri. Setiap kita ingin menyalahkan diri sendiri, cobalah bertanya, "Apakah mereka mengatakan saya yang bertanggung jawab atas kesalahan ini?" Lalu, jangan langsung membebani diri dengan tanggung jawab, tapi lihat sekali lagi sebenarnya apa masalahnya. Kembalikan rasa percaya diri kita, buatlah daftar sisi positif diri. Buat diri kita kembali berarti. Jika sulit, jangan ragu untuk menemui pakar.
 


3) Gaya marah menghindar: Bahkan saat ada bola kemarahan besar dalam diri, kita tetap memasang senyum dan menutupi semua kekesalan. Ini bukan pasif agresif, tapi mengubur agresi.

Situasi #3 "Baik baik saja. Semua baik kok. Tidak ada yang salah."

Kenapa kita melakukannya? "Perempuan khususnya, sering diingatkan berkali-kali untuk tetap menjaga perilaku, apapun yang terjadi. Bila marah, perempuan bisa kehilangan reputasi, pernikahan, teman, atau pekerjaannya," kata Ronald. Belum lagi jika kita hidup di lingkungan yang keras atau kejam. Kita menjadi sulit percaya kalau dapat mengontrol dan mengekspresikan kemarahan dengan tenang.

Kerusakan yang ditimbulkan: Fungsi utama kemarahan adalah sebagai penanda bila sesuatu salah dan butuh diperbaiki. Dengan mengabaikan sinyal peringatan ini, kita melestarikan perilaku yang merugikan diri sendiri. Misalnya, makan atau belanja berlebihan. Kita juga memberikan lampu hijau bagi perilaku orang lain yang salah dan menutup kesempatan mereka untuk memperbaiki kesalahan. Bagaimana mereka bisa meminta maaf, jika tidak tahu apa kesalahannya?

Balikkan situasi dengan mengubah cara berpikir. Coba pikirkan, "Apakah pasangan saya boleh-boleh saja pulang telat tiap malam?" atau "Baikkah membiarkan anak berlaku kasar pada asisten rumah tangga?" Jika kita jujur menjawabnya, hasilnya akan: "Sebenarnya semua tidak baik-baik saja." Mengenali ada hal yang salah merupakan langkah awal untuk sebuah perbaikan. "Menghindar lebih sering merusak hubungan keluarga dan pertemanan dibanding ekspresi kemarahan," Ronald menerangkan.
 


4) Gaya marah sarkasme: Kita mencari jalan berputar untuk memarahi seseorang, yaitu dengan sindiran.

Situasi #4 "Tidak apa-apa kok kamu datang telat. Saya jadi punya waktu untuk membaca menu ini… 40 kali."

Kenapa kita melakukannya? Mungkin kita diajarkan untuk mempercayai kalau mengekspresikan emosi negatif tidak baik. Jadilah kita mencari cara untuk menunjukkannya secara tidak langsung. Kalau orang tersebut marah, itu bukan salah kita. Salah dia yang tidak bisa diajak sedikit bercanda.

Kerusakan yang ditimbulkan: Biarpun dibungkus dengan humor, komentar tajam dapat merusak sebuah hubungan. Ada sebagian orang yang percaya kepiawaian mengejek berkaitan erat dengan intelektual. Namun, kata sarkasme itu sendiri berasal dari bahasa Yunani ‘sarkazein’ yang artinya “seperti daging yang dikoyak anjing.” Tetap menyakitkan.

Balikkan situasi dengan berkata secara langsung. "Sarkasme merupakan komunikasi pasif-agresif," kata Peaco Todd, M.A, penulis buku Good and Mad: Transform Anger Using Mind, Body, Soul, and Humor. Carilah kata-kata yang dapat mengungkapkan perasaan kita secara langsung. Kita dapat menjelaskan pada teman yang terlambat, sebaiknya setelah kita mempersilakan dia duduk, "Saya berharap kamu datang tepat waktu, karena waktu kita terbatas." Katakan keberatan kita dengan jelas, terutama bila berkomunikasi dengan anak-anak. "Ibu tidak suka kalau kamu loncat-loncat di sofa," akan lebih dipahami daripada kalimat sindiran, "Tidak apa loncat-loncat di situ, kita kan sudah punya tabungan dua juta untuk beli sofa baru." Ungkapkan perasaan kita sebelum emosi meninggi untuk mencegah kata-kata sarkasme terucap.



5) Gaya marah pasif-agresif: Kita tidak menyembunyikan kemarahan, tapi kita punya cara menunjukkannya dengan cara yang licik.

Situasi #5 "Aduh maaf Bu, sepertinya saya lupa membawa proposal untuk presentasi nanti."

Kenapa kita melakukannya? Kita tidak suka konfrontasi, dan bukan orang yang suka dikalahkan juga. "Orang menyalurkan kemarahan dengan perilaku licik karena tidak bisa membela diri," Ronald menyakini. Orang yang sangat berhati-hati akan marah dengan gaya ini jika merasa terdorong ke luar zona nyaman.

Kerusakan yang ditimbulkan:
Kita membuat orang lain frustasi. Dalam kata lain, menurut Peaco: "Dalam hidup Anda sibuk memastikan orang lain tidak mendapatkan apa yang mereka mau, dan bukan untuk berjuang mencari apa yang dapat membuat Anda bahagia." Intinya, tidak ada yang menang.

Balikkan situasi dengan memperbolehkan diri untuk marah.
Yakini bahwa kemarahan merupakan cara psikis kita untuk mengatakan: Saya lelah ditindas. Camkan kalimat ini: Tegas itu baik, agresi (baik itu pasif atau bukan) tidak baik. Oleh karena itu, bela diri kita dengan cara yang benar. Daripada “melupakan” proposal yang harus diserahkan, lebih baik kita mengatakan secara langsung kalau beban kerja kita terlalu banyak dan tidak mampu lagi menanganinya.
 


6) Gaya marah sering merasa jengkel: Biasanya ini bukan sebuah reaksi atas kejadian tertentu. Lebih merupakan pilihan tetap. Reaksi inilah yang selalu muncul, kecuali kita dengan sadar mematikannya.

Situasi #6 "Kenapa sih dari tadi kamu pinjam bolpoin terus?! Beli sendiri dong!"

Kenapa kita melakukannya? Jika perasaan sebal terus menetap di alam bawah sadar kita dan terus-menerus muncul ke permukaan, kemungkinan ada dendam, penyesalan, dan frustasi yang bergejolak di dalam hati. Mungkin rekan kerja itu mendapatkan promosi yang kita inginkan. Atau, pernikahan kita berantakan dan kita tidak tahu apa penyebabnya.

Kerusakan yang ditimbulkan: Bila selalu jengkel, teman, keluarga, dan rekan kerja akan menderita agar kita tidak jengkel. Atau, mereka akan menjauhi kita. Hasilnya? Tidak ada perkembangan, kita terjebak dalam siklus kemarahan.

Balikkan situasi dengan mencari akar masalah. Apa yang sebenarnya membuat kita marah? Bila kita menggali lebih dalam, masalahnya mungkin bukan bolpoin, kaus kaki kotor di lantai, atau botol kosong di kulkas, dan berbagai hal kecil lain yang membuat kita frustasi. Lalu, coba kenali tanda-tanda kejengkelan itu. Apakah kita mengepalkan tangan, berjalan keliling ruangan, memaki, atau merapatkan gigi? Setelah tahu tandanya, lakukan hal menyenangkan untuk mengalihkan pikiran. Bisa dengan melihat atau mendengar hal-hal yang menenangkan atau mengatur nafas.


(Pernah dimuat dalam majalah Prevention Indonesia edisi April 2012)