30.5.13

#andaisaja

#andaisaja yang dipersembahkan oleh 
"semoga" dan "gerimis"-nya
kla project:

 

sedang menghabiskan #andaisaja untuk makan malam. supaya besok pagi tidak ada lagi yang perlu dihagatkan untuk sarapan

si mimpi mati gantung diri. dia putus asa mendengar semua #andaisaja dipenjara duo penguasa: etika dan logika.

beli satu #andaisaja dapat bonus kecewa seumur hidup

#andaisaja disimpan oleh diam. diletakkan perlahan dalam mimpi pungguk, si pemuja bulan.

barisan itu dimpimpin oleh kenyataan. di belakangnya ada #andaisaja yang dibuntuti penyesalan

#andaisaja yang dulu terkurung dalam laci berhasil melarikan diri. sekarang dia berkeliaran di jalan lengang yang sering mereka lalui

beberapa meter mejelang garis finis dalam sebuah perlombaan menempuh hidup baru, #andaisaja beterbangan menerpa wajah si pelari kecil

#andaisaja datang menyelinap di antara lini masa yang mengedipkan mata


mari berhenti membicarakan cinta



orang tidak akan percaya kalau saya, pencinta puisi-puisinya sapardi djoko damono dan lagu-lagunya kla project, mengajak kita untuk berhenti membicarakan cinta. saya mengajak semua orang yang sudah menikah untuk berhenti membicarakan cinta, bukan karena tidak lagi percaya. saya masih percaya kok akan reaksi kimia yang dapat membuat seseorang menjadi penyair dalam sehari itu. iya memang, saya tidak pernah mengatakan "aku cinta kamu" kepada suami, tapi bukan berarti saya tidak mencintainya kan?

selain kepada orang yang sudah menikah, saya terutama ingin mengajak semua orang yang berselingkuh untuk berhenti membicarakan cinta. ajakan kepada golongan ini tentunya tidak akan mendapatkan protes seperti pada golongan yang disebutkan sebelumnya.

kenapa berhenti membicarakan cinta? karena kata tersebut terlalu abstrak, sulit dimengerti, dan terlalu sering diekploitasi sebagai alasan dari tindakan-tindakan irasional. mari kita lupakan cinta sejenak dan membicarakan suatu hal yang lebih nyata: komitmen.

menurut kamus besar bahasa indonesia dalam jaringan, komitmen merupakan perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu.

bagi saya, yang utama dalam pernikahan bukan cinta tapi komitmen. tidak semua pernikahan berlandaskan cinta, tapi semuanya pasti memiliki perjanjian yang mengikat. mengikat bisa dalam segi hukum, emosional, adat, dan kepercayaan.

perselingkuhan juga demikian, yang utama bukan cinta tapi komitmen. bagaimana perjanjiannya? nah, di sinilah perselingkuhan menjadi lebih rumit dari pernikahan, karena perjanjiannya seringkali tidak jelas. ikatannya pun kebanyakan sifatnya hanya emosional.

lalu, kenapa harus membicarakan komitmen? karena segala bentuk hubungan, baik itu pernikahan atau perselingkuhan akan menjadi lebih jelas, bisa dimengerti, bila semua pihak memahami komitmennya. 


saat menikah perjanjiannya bagaimana? kok bisa kemudian berselingkuh? saat mulai menjalin hubungan perselingkuhan, yang dijanjikan apa? kok bisa yang satu berharap dinikahi sementara yang lain cuma ingin main-main? kalau sudah tidak ada yang menepati perjanjian awal, pernikahan menjadi sekadar status tanpa komitmen. kalau dalam hubungan perselingkuhan komitmen tiap pihak berbeda, ya buat apa buang-buang waktu. tuh, jadi lebih sederhana kan kalau yang dibicarakan komitmen dan bukan cinta!

jadi, orang selingkuh itu bukan karena tidak cinta lagi pada pasangannya. kalau yang dibicarakan cinta, akan bermunculan ribuan alasan perselingkuhan seperti: dulu kami menikah karena dia sudah hamil; sejak punya anak jadi tidak pernah bercinta; dia bertambah gemuk dan tidak menarik lagi; bertemu orang yang bisa memahami saya; dia jadi lebih memerhatikan anak; dia kerja melulu; dll.

oke kamu menikah karena keburu hamil, lalu komitmennya bagaimana? kalau cuma sekadar ingin memudahkan pembuatan akte kelahiran anak dengan nama orangtua lengkap dengan status menikah, silakan berselingkuh kemudian bercerai setelah anak lahir. namun, sepertinya tidak banyak yang memiliki komitmen semacam itu. kalau komitmennya ingin menjadi pasangan orangtua yang bertanggung jawab ya jangan selingkuh. kalau tiba-tiba mabuk dan tidak bisa mengendalikan diri sehingga terdampar di kasur, bercinta dengan orang lain? ya lakukan satu kali saja. kalau berkali-kali, artinya kamu sudah tidak bisa berkomitmen untuk menjadi pasangan orangtua yang bertanggung jawab. masih bisa menjadi orangtua, tapi tidak berpasangan.

kalau pasangan berubah, cinta memudar, badan menggemuk bagaimana? pastinya hal-hal semacam itu tidak terjadi dalam semalam. ada proses dan pembiaran akan proses itu sudah menunjukkan kalau kamu sudah tidak mau berkomitmen.

soal godaan dari luar? akan selalu ada orang yang lebih seksi, lebih mengerti, lebih cerdas, lebih kaya, lebih romantis, lebih baik, dst. populasi dunia kan terus bertambah, dan kemudahan komunikasi juga membuat peluang bertemu mahluk-mahluk penggoda itu semakin besar. boleh saja menikmati godaan dan perasaan dikagumi itu, tapi dalam batas-batas yang tidak merusak komitmen. terdengar sulit untuk dilakukan ya? ya iya lah... kata siapa mempertahankan pernikahan itu gampang? tentunya kamu sudah tahu ini, karena sudah memikirkannya ribuan kali sebelum memutuskan menikah.

kalau soal pasangan yang orientasi hidupnya hanya ke anak atau ke pekerjaan? please deh, kalau bosan dengan hidup dan haus akan perhatian pasangan, coba cari kesibukan yang bukan berselingkuh. pernah dengar kata hobi kan? itu lho baca buku, memasak, merajut, merenda, menjahit, jalan-jalan, memelihara binatang... bisa aja sih kalau hobinya selingkuh, tapi emang nggak capek ya membuat komitmen baru dengan beberapa orang sekaligus? silakan aja sih kalau sanggup menanggung risikonya.



*rangkuman perbincangan warung kopi