14.4.14

Ada Satu Pertanyaan Penting



Belakangan sedang ramai dibicarakan tentang kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan di sekolah internasional ternama di Jakarta terhadap seorang siswa taman kanak-kanan. Banyak teman-teman sesama ibu mengaku menangis, panik, marah, dan terang-terangan mencaci maki pelakunya.

Saya? Saya hanya membaca dan mengikuti terus beritanya tanpa menampilkan tautannya di sosial media sambil mengutarakan pendapat saya. Mungkin berita ini tidak terlalu memiliki kedekatan personal dengan saya? Tidak juga, karena saya memiliki seorang anak laki-laki yang sebentar lagi masuk taman kanak-kanak. Tentu saya khawatir seperti ibu-ibu lain.

Saya hanya tidak percaya dengan berita yang ditulis di media. Bukannya saya tidak percaya itu terjadi. Saya sangat percaya. Saking percayanya saya tahu benar kalau kasus pelecehan semacam ini sudah sering terjadi, tapi banyak orang tua yang tidak tahu.

Sampailah saya pada satu pertanyaan penting yang belum bisa saya jawab. Bisakah kita, sebagai orang tua, mengetahui kalau anak-anak itu sudah mengalami kekerasan dan pelecehan seksual? Semua orang tua ingin menjawab dengan lantang "Bisa!"

Benarkah? Bagaimana kalau tidak ada luka fisik? Tidak ada jejak penyakit kelamin seperti dalam kasus yang membukan tulisan ini? Bagaimana kalau tidak ada perubahan sikap anak yang tampak? Bagaimana kalau semua orang di sekitar kita menutupinya? Bisakah kita tetap tahu.

Lalu jawabannya pasti: berikan pengetahuan tentang cara menjaga diri; ajari cara melindungi alat kelamin supaya tidak disentuh sembarangan oleh siapa pun; dampingi anak dan jangan biarkan mereka lepas dari pengawasan kita. Benarkah itu bisa menjamin?

Siapa sih yang menyangka sekolah internasional mahal bisa sebegitu lemah pengawasannya? Siapa sih yang bisa mengira om, tante, pengasuh anak, sopir, atau mungkin pasangan kita sendiri, orang tua anak itu juga, akan melakukan kekerasan seksual? Jangan lupa, dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual, paling banyak dilakukan oleh orang-orang terdekat anak tersebut. Orang-orang yang kita percaya, yang kita pandang dengan hormat.

Akhirnya ya kita tidak akan pernah tahu bukan? Bisa saja kita berhasil menjaga anak itu dari bayi hingga remaja sehingga terhindar dari ancaman pelecehan. Setelah itu? Saat mereka cukup umur untuk mengambil keputusan, saat mereka dewasa, apakah kemungkinan mengalami pelecehan tidak ada lagi? Masih ada kan?

Tentunya kita akan terus berusaha melindungi anak-anak itu. Kita akan memberikan bekal pengetahuan seksual, tentang seks yang membutuhkan persetujuan kedua belah pihak sebelum dilakukan, tentang apa saja bentuk pelecehan itu, apa itu kekerasan seksual, dsb. Kita pun tidak bisa terus was-was dan menularkan ketakutan pada anak-anak itu. Karena ketakutan hanya akan menghambat pembelajaran hidup mereka.

Sekali lagi, baca baik-baik semua berita di media massa. Jangan percaya satu sumber. Coba amati yang tersirat, bukan hanya yang tersurat. Ada banyak cerita di balik sebuah berita. Ada banyak pertanyaan yang akan muncul jika kita kritis. Pertanyaan yang kadang tidak bisa kita temukan jawabannya. Seperti pertanyaan penting satu ini: Apakah kita akan selalu tahu?

26.3.14

k o n v e n s i o n a l


konvensional: 1) berdasarkan konvensi (kesepakatan) umum (spt adat, kebiasaan, kelaziman); 2) tradisional

--kamus besar bahasa indonesia dalam jaringan



Conscious Uncoupling


pengumuman di sebuah situs yang memuat foto di atas telah menghebohkan dunia. bagi yang sudah menikah mungkin banyak yang akhirnya memikirkan nasib pernikahannya. bagi yang belum, bisa jadi semakin enggan menikah. saya termasuk yang pertama, memikirkan tentang nasib pernikahan saya (dan beberapa orang di sekitar saya).

sepertinya sudah beberapa kali ya saya menulis tentang pernikahan. entah kenapa, tema pernikahan sangat enak buat ditulis. sepertinya terlalu banyak cerita di sekeliling saya yang menggelitik untuk dikomentari. sayangnya, mengomentari pernikahan orang lain secara langsung tidak terlalu menyenangkan untuk dilakukan. jadi ya, saya lebih nyaman menuliskan unek-unek di sini.

salah satu unek-unek yang ingin saya sampaikan adalah: kenapa sih memilih jalan hidup yang konvensional (menikah dan punya anak) kalau ternyata masih senang melakukan hal aneh-aneh. menurut saya, pernikahan itu sesuatu yang sangat konvensional. kalau masih senang melakukan hal yang neko-neko ya lebih baik tidak usah menikah atau sudahi saja pernikahannya.

saya bingung kenapa orang senang menyangkal sisi konvensional pernikahan ini. caranya macam-macam, dari mulai berselingkuh, menikahi lebih dari satu orang, membuat kesepakatan open relationship, dan ide-ide gila lain. padahal, mau menyangkal sehebat apa pun, tetap saja orang yang menikah pasti mengharapkan sesuatu yang konvensional dari bentuk hubungan tersebut. pasangan sesama jenis yang akhirnya memutuskan untuk menikah juga biasanya demikian. sebagian dari mereka menginginkan anak, sebagian lagi bersumpah setia untuk bisa melegitimasi hubungan mereka sebagai pasangan "resmi."

pasangan dalam foto di atas memutuskan untuk "consciously uncouple and coparent." akibat tampak sangat ideal sebagai pasangan dan sebagai orangtua, keputusan mereka menjadi mengejutkan banyak orang. hubungan mereka tampak sangat konvensional, atau paling tidak mereka mengusahakan untuk tampak konvensional. apakah ini mematahkan teori saya bahwa yang konvensional itu ternyata tetap tidak bisa bertahan dalam pernikahan?

lho, kalau yang konvensional saya tidak bisa bertahan bagaimana dengan yang tidak konvensional? pertanyaannya utama di sini adalah bisakah orang-orang yang tidak konvensional menjalani sesuatu yang sangat konvensional?

pasangan bintang hollywood dan penyanyi rock pasti sulit menjalani hidup konvensional di tengah hingar-bingar kegiatan karir mereka. mereka sudah berusaha 10 tahun. mungkin memang pernikahan keduanya hanya bisa diusahakan selama itu. mereka mungkin akhirnya memiliki pendapat yang sama dengan saya, sesuatu yang neko-neko itu tidak cocok untuk dibingkai dalam sebuah pernikahan. karena itulah kemudian mereka akhirnya memutuskan untuk bercerai.

saya sangat mengerti dan menghormati pilihan siapa pun untuk bercerai. bagi saya bercerai jauh lebih baik karena paling tidak mereka mau mengakui kelemahan mereka, kemudian memutuskan sesuatu yang pastinya tidak mudah dilakukan, dan terakhir mau menanggung risiko dari keputusan itu. tiga tindakan tersebut jauh lebih baik daripada terus berusaha untuk menutup-nutupi sesuatu alias berbohong ke banyak pihak; atau mengulur-ngulur waktu akibat tidak bisa mengambil keputusan dan ingin memiliki semuanya; dan tentunya dua hal itu merupakan bentuk tindakan yang lebih tidak bertanggung jawab.

orang yang memutuskan untuk menikah bisa bukan golongan yang konvensional. namun, pernikahan ini mau tidak mau merupakan lembaga tradisional yang memiliki beban nilai konvensional. kalau kita sudah memilih untuk menikah, sedikit banyak akan tetap ada beban nilai konvensional yang harus dipertanggungjawabkan dalam hubungan.

kembali ke pertanyaan utama: bisakah orang-orang yang tidak konvensional menjalani sesuatu yang sangat konvensional?

kalau bisa silakan! kalau tidak, sudah sewajarnya bukan?